JUDUL: KEPAHLAWANAN HAMZAH BIN ABDUL MUTHALIB
A. PENDAHULUAN
Allah Subhnahu wa Ta’ala
berfirman dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 100
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ
وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ
خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ [٩:١٠٠]
Orang-orang yang terdahulu lagi yang
pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang
yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun
ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir
sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah
kemenangan yang besar.
Di antara
sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang terkenal paling
pemberani adalah paman beliau sendiri, Hamzah bin Abdul Muthalib. Beliau
seorang lelaki Arab yang paling berani, pejuang yang pantang mundur, dan
komandan perang Islam yang cerdas dalam beberapa peperangan yang sangat
menentukan masa depan Islam, seperti perang Badar dan Uhud. Dengan keahlian
perangnya yang mumpuni, dia menjadi salah seorang penentu kemenangan perang
Badar dengan beberapa sahabat Nabi lainnya yang gagah berani, meskipun saat itu
jumlah pasukan kaum Muslimin sedikit.
Hamzah senantiasa berada di sisi kemenakannya sendiri, Nabi Muhammad Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam dan di saat tersulit pun ia selalu setia membela risalah
yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pemimpin dan
pembesar Quraisy takut dan khawatir akan keberanian beliau. Dan ketakutan itu
membuat mereka tidak punya nyali untuk mencegah laju dakwah Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam. Sehingga bisa dikatakan, Hamzah memainkan peran penting
dalam mempertahankan dan menjaga Islam serta membela Nabi demi keberlangsungan
dan keabadian ajaran suci Islam.
Selama di Mekkah, Hamzah membantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam di saat-saat genting dengan sepenuh jiwa. Beliau rela berkorban dan
tak segan-segan menjadikan dirinya sebagai tumbal saat berhadapan langsung
dengan kaum musyrikin.
B. PEMBAHASAN
1. Nama Dan Kelahirannya
Beliau adalah putra Abdul Muthalib dan paman Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam. Beliau lahir pada tahun keempat sebelum peristiwa
pasukan gajah (Tahun Gajah) di kota Mekkah. Di tengah masa Jahilah dan
tersebarnya akidah syirik pada penduduk Hijaz, beliau tetap berpegang pada
ajaran lurus Nabi Ibrahim dan dikenal sebagai pemuda yang senantiasa memberikan
perlindungan kepada orang-orang lemah.
Ayahnya adalah Abdul Muthalib dan ibunya anak perempuan dari Amru bin Zaid
bin Lubaid yang bernama Salmi.
2. Saudara Sepersusuan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Hamzah sangat dekat dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Kedekatan ini tidak hanya dari sisi spiritual namun juga dari sisi material.
Tsubah, budak Abu Lahab pernah menyusui Hamzah dan sewaktu menyusui anaknya
yang bernama Masruh, ia juga menyusui Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
selama beberapa hari. Sehingga dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Hamzah dan
Nabi adalah saudara sepersusuan.
Sewaktu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memulai menyebarkan
ajaran sucinya dan masyarakat secara bertahap menerima ajaran tauhid dan
pesan-pesan Al-Qur’an, Hamzah pun sebenarnya telah mengetahui dan tertarik
dengan kebenaran ajaran Ilahi dan dakwah kemenakannya, Muhammad Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam. Namun demi kemaslahatan saat itu ia belum menampakkan
keimanan dan keyakinannya. Ia seolah menunggu moment yang tepat untuk
menunjukkan ketertarikan dan kecintaannya terhadap Islam dan Nabi Muhammad Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam serta mendukung risalah Ilahi secara terang-terangan.
Karena Hamzah hidup bersama kaum musyrikin maka ia mengetahui pelbagai
konspirasi mereka terhadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal
itulah yang membuatnya semakin tergugah dan tegar untuk membela Rasul Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam. Setiap dakwah Islam semakin bertumbuh dan jumlah kaum
Muslimin semakin bertambah maka perlawanan kaum musyrikin pun semakin hebat.
Keteguhan dan ketegaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di jalan
kebenaran dan syariat Ilahi begitu menggugah perasaan Hamzah. Beberapa tahun
setelah masa pengangkatan Nabi berlalu, terbuka kesempatan bagi Hamzah untuk
menunjukkan keimanan dan akidahnya. Sebagian mengatakan bahwa Hamzah masuk
Islam pada tahun kedua pasca bi’tsah (masa pengangkatan Nabi),
sebagiannya lagi menyakini pada tahun keenam pasca bi’tsah. Kisah
mengenai masuk Islamnya beliau sangat menarik:
Setelah pengangkatan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadi
Nabi, Hamzah juga mengucapkan syahadat dengan menyakini keesaan Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan kebenaran agama yang
dibawah oleh putra saudaranya. Setelah Hamzah masuk Islam, kaum Quraisy
mengajukan beberapa permintaan/usulan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam. Sebab mereka sadar bahwa laki-laki yang paling berani kini telah
menyatakan keimanannya di hadapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,
sehingga karena itu mereka tak lagi dapat mengharapkan dukungannya. Namun Nabi Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam tak memenuhi satupun dari permintaan mereka.
Usai Abu Jahal menyampaikan pidatonya di tengah-tengah Kabilah Quraisy,
mereka memutuskan untuk membunuh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Suatu hari Abu Jahal melihat Nabi di bukit Safa, lalu ia memaki beliau. beliau
tetap saja berjalan menuju ke rumah beliau tanpa memperdulikan makian Abu
Jahal. Budak Abdullah bin Jad’an yang menjadi saksi mata atas peristiwa
tersebut melaporkannya kepada Hamzah. Tanpa berpikir panjang dan memikirkan
akibatnya, Hamzah memutuskan untuk membalas perlakukan buruk yang didapat oleh
kemenakannya. Di tengah perjalanan ia menemui Abu Jahal yang berada di tengah
kerumunan orang-orang Quraisy. Tanpa memberikan kesempatan kepada yang lain
untuk berbicara, ia mendekati Abu Jahal dan langsung menghantam kepalanya
dengan cambuk, sehingga kepala Abu Jahal bersimbah darah. Hamzah pun berkata,
“Berani kau menghina Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Saya
beriman dengan apa yang dikatakannya dan akan mengikuti jalan kemanapun dia
pergi. Jika kau berani, silakan berhadapan denganku!” Dengan menghadap kepada
orang-orang Quraisy, Abu Jahal berkata, “Saya telah berbuat buruk pada Muhammad,
dan wajar Hamzah marah.”
Ketika penyiksaan kaum Musyrikin kepada pengikut Nabi Muhammad Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam semakin menjadi-jadi, beberapa sahabat beliau berhijrah
ke Habasyah. Tidak berapa lama kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
pun akhirnya memutuskan untuk berhijrah ke Madinah. Beberapa kelompok kaum
Muslimin Yatsrib bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di
Mina saat mereka melaksanakan ibadah haji. Mereka berjanji bahwa jika sekiranya
Rasulullah saw dan kaum Muslimin lainnya berhijrah ke Madinah maka mereka akan
memberikan perlindungan terhadap umat Islam yang teraniaya tersebut.
Demi kelancaran pertemuan dan keberlangsungan perjanjian tersebut, Hamzah
melindungi dan menyembunyikan pertemuan tersebut dari kaum Musyrikin. Akhirnya,
setelah satu dua tahun kemudian kaum Muslimin mendapat kesempatan dan peluang
untuk berhijrah. Sebelum Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
berhijrah, beberapa kelompok terlebih dahulu berhijrah ke Yatsrib dan Hamzah
ikut di antara mereka. Setibanya di Madinah, mereka menunggu detik-detik
kedatangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Akhirnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah.
Hijrah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini membuat kekuatan umat
Islam semakin bertambah, sekaligus membuat permusuhan kaum Musyrikin melemah.
Sampai akhirnya umat Islam dan kaum musyrikin saling berhadap-hadapan pada
perang Badar. Pada perang yang pertama kali ini Sayyidina Hamzah mendapat gelar
asadullah wa asadurrasul (singa Allah dan Rasul-Nya). Saat itu beliau
diserahi amanah oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk
menjadi komandan perang dimana bendera perang ada di tangannya. Hamzah memimpin
pasukan Islam yang hanya berjumlah 30 orang untuk berhadapan dengan 300 orang
dari laskar Quraisy. Peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadhan, tahun pertama
hijriyah. Meskipun tidak terjadi kontak fisik antara kedua kubu namun Hamzah
merasa terhormat dan bangga ketika ditunjuk oleh Nabi sebagai pimpinan pasukan.
3. Kepahlawanannya dalam Peperangan
Perkembangan dakwah Islam yang pesat membuat kaum Quraisy semakin murka dan
semakin meningkatkan penyiksaan dan permusuhan mereka terhadap umat Islam.
Bahkan Abu Lahab, paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan istrinya
berkali-kali bersikap buruk terhadap Rasulullah saw, utamanya ketika mereka
bertetangga dengan beliau. Nabi saw tidak mampu berbuat apa-apa ketika kepala
dan wajah beliau dilempari berbagai kotoran dan sampah serta kotoran kambing.
Hamzah pun membalas tindakan setimpal yang dilakukan oleh Abu Lahab.
Sariyah (perang yang tidak diikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam)
pertama: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berhijrah dari Mekah
ke Madinah pada hari Senin 12 Rabiul Awal dan bendera pertama Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam yang berwarna putih, pada bulan Ramadhan, awal bulan
ketujuh tahun pertama Hijriyah, diserahkannya kepada Hamzah, pamannya. Abu
Marshad Kannas bin Hushain Ganawi, termasuk orang pertama yang masuk Islam dan
sekaligus teman sebaya Hamzah, mengikatkan bendera itu di pundaknya. Rasulullah
saw mengutus Hamzah dengan 30 sahabat Muhajirin menuju ke medan perang untuk
menghadapi 300 orang pasukan Quraisy. Pasukan Quraisy ini dipimpin oleh Abu
Jahal. Saat itu pasukan musuh telah melakukan perjalanan dari Syam dan ingin
kembali ke Mekah. Di salah satu desa di tepi laut merah dua pasukan ini
bertemu. Mujaddi bin Amru Jahni yang memiliki hubungan baik dengan kedua belah
pihak menjadi mediator dan berusaha keras agar kedua kelompok berunding dan
mencegah terjadinya peperangan.
Pada bulan Safar tahun awal Hijriyah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam ikut serta dalam Ghazwah Abwa (perang yang diikuti Nabi Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam) Abwa untuk pertama kalinya. Abwa adalah tempat yang
berjarak 37 km di antara Mekah dan Madinah. Saat itu beliau memberikan bendera
putih kepada Hamzah. Dalam Ghazwah ini, Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam bertekad untuk menghadapi kafilah Quraisy, namun beliau
tidak bertemu langsung dengan pasukan musuh.
Pada bulan Jumadil Akhir tahun kedua Hijriyah, Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam berangkat menuju Gazhwa Dzul’asyirah dan lagi-lagi beliau
memberikan bendera putih kepada Hamzah. Beliau bergerak bersama 150 pasukan
sukarelawan Muhajirin. Kelompok pasukan ini memiliki 30 ekor unta dan mereka
saling bergantian mengendarainya. Ketika Rasulullah saw dan sahabat-sahabatnya
tiba di Dzul’asyirah, pasukan kaum kafir Quraisy telah melewatinya sejak
beberapa hari sebelumnya. Ketika kembali pun, pasukan musuh melewati tepian
pantai sehingga tidak bertemu dengan Rasulullah saw dan para sahabatnya.
Pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah terjadi perang antara kaum Muslimin
dengan kaum kuffar Quraisy yang dikenal dengan nama perang Badar. Sewaktu
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merapikan barisan kaum
Muslimin, tiba-tiba angin berhembus dengan sangat kencang yang belum pernah
terjadi sebelumnya. Dan angin kencang ini bertiup berulang sampai beberapa
kali. Angin kencang ini sebagai pertanda kedatangan para malaikat. Yang
pertama, Malaikat Jibril dengan seribu malaikat lainnya datang menghadap
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang kedua Malaikat Mikail
dengan seribu malaikat di sebelah kanan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam dan yang ketiga Malaikat Israfil dengan seribu malaikat disisi kiri
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kesemua malaikat ini
mengenakan sorban (ikat kepala) yang terbuat dari cahaya yang berwarna hijau,
kuning dan merah yang menggelantung sampai di pundak mereka, dan mereka
menggantungkan bulu dan rambut di dahi unta-unta mereka.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada
sahabat-sahabatnya, bahwa mereka adalah malaikat-malaikat yang akan memberikan
bantuan dan dukungan kepada kaum Muslimin. Para malaikat telah menandai diri
mereka, maka kalian pun hendaklah melakukan hal yang sama. Lalu para sahabat
mendandai topi besi yang dikenakan di kepala mereka dengan bulu onta.
Orang yang pertama kali tiba di medan pertempuran dari kaum Muslimin adalah
Muhajja` (budak yang dimerdekakan oleh Umar bin Khaththab). Kaum musyrikin
berteriak dengan keras, “Hai Muhammad, siapa saja yang punya hubungan dengan
kami, kirimlah dia untuk berperang dengan kami.” Nabi Muhammad Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam berkata kepada Bani Hasyim, “Bangkitlah! Berperanglah
demi kebenaran yang dengannya Nabi kalian diutus dan mereka datang untuk
memadamkan cahaya kebenaran itu.!!!”
Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali bin Abi Thalib dn Ubaidah bin Harits bin
Muthalib keluar dari barisan dan menuju mereka. Karena ketiga orang tersebut
mengenakan penutup kepala sehingga sulit untuk dikenali. Utbah berkata,
“Berbicaralah sehingga kami dapat mengenali suara kalian!” Hamzah berkata,
“Sayalah Hamzah, putra Abdul Muthalib, singa Allah dan singa Rasul-Nya.” Utbah
berkata, “Ya, kamu adalah pembesar, lantas siapa dua orang bersamamu ini?”
Hamzah menjawab, “Ali bin Abi Thalib dan Ubaidah bin Harits”. Utbah berkata,
“Dua orang bersamamu juga adalah juga orang-orang besar”.
Waktu itu Ali bin Abi Thalib berhadapan dengan Walid bin Utbah dan berhasil
membunuhnya. Sementara Hamzah berduel dengan Utbah dan juga berhasil
membunuhnya dengan hanya dua pukulan. Dan Ubaidah bin Harits sahabat Nabi yang
paling muda saat itu berdiri menghadapi Syaibah. Syaibah memukulkan pedangnya
pada kaki Ubaidah dan membuat pergelangan kaki Ubaidah terpotong. Melihat itu
Hamzah, singa Allah dan Rasul-Nya bersama Ali segera menyerang Syaibah dan
mereka berhasil membunuhnya.
Dalam perang ini, Abdurrahman bin Auf dan Bilal Habasyi berhasil menawan
Umayyah bin Khalf dan anaknya. Bilal berkata, ”Waktu itu saya berada diantara
Umayyah dan anaknya, kemudian saya menangkap mereka. Umayyah bertanya kepada
saya, “Siapa diantara kalian yang menandai dadanya dengan bulu onta?”. Saya
menjawab, “Hamzah bin Abdul Muthalib.” Ia berkata, “Hamzah membawa malapetaka
atas diri kami.”
Pertengahan Syawal tahun kedua Hijriyah. Kabilah Bani Qainuqa’, kelompok
yang paling berani diantara kelompok kaum Yahudi yang berprofesi sebagai pandai
besi memiliki ikatan perjanjian dengan Abdullah bin Ubay dan juga Rasulullah
saw. Ketika terjadi perang Badar, kebencian dan rasa dengki membuat mereka
memutuskan untuk membatalkan perjanjian. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan surah Al-Anfal ayat 58 kepada
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,
“Dan jika engkau (Muhammad) khawatir
akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah
perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sungguh, Allah tidak
menyukai orang yang berkhianat.”
Dengan turunnnya ayat ini, Rasulullah menjadi waspada terhadap Bani
Qainuqa’. Beliau menyerahkan bendera ke tangan Hamzah dan memerintahkannya
dengan beberapa pasukan untuk menghadapi mereka. Bani Qainuqa’ adalah kelompok
Yahudi yang pertama kali melakukan pengkhianatan kepada Islam. Ketika
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baru melakukan pengepungan,
kontan saja mereka merasa ketakutan, sehingga mereka pun menyerah kepada kaum
Muslimin dan menyerahkan harta-harta mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam bersabda, “Bebaskan mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala
telah melaknat mereka dan Abdullah bin Ubay”.
Perang Uhud: Akhir Syawal tahun kedua Hijriyah menjelang terjadinya perang
Uhud. Hamzah, sebagai panglima perang—sebelum memulai perang— berkata, “Demi
Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menurunkan Al-Qur’an, hari ini saya
tidak akan menyentuh sedikit pun makanan sampai saya menghadapi lawan dalam
peperangan.”
Ketika terjadi kesalah
pahaman terjadi di antara para sahabat tentang sikap yang harus diambil terkait
dengan kedatangan pasukan kafir kuraisy dari makkah, apakah tetap bertahan di madinah atau keluar
menyongsong musuh. Untuk mengklarifikasi hal tersebut kepada Rasulullah, mereka
pun mengutus hamzah untuk menemui Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam.
Berkata Hamzah kepada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Rasulullah,
orang-orang sedang berselisih dan saling mencelah. Mereka berpesan kepadaku
untuk mengatakan kepada anda bahwa segala keputusan sekarang ini tergantung
kepada anda” mendengar perkataan Hamzah, beliau bersabda, “bukanlah seorang
nabi bila ia telah memakai baju zirahnya lalu menanggalkan dan surut sebelum
perang terlaksana.”[1]
4. Hamzah bersama Kaum Muslimin
Di malam hari perang Uhud, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
tahu bahwa tidak lama lagi pamannya akan gugur sebagai syahid. Beliau pun
berbincang dengan Hamzah dan menanyakan kembali keyakinannya mengenai
ketauhidan dan kenabian serta risalah yang dibawanya. Hamzah kemudian menjawab
dengan tegas dan kembali mengucapkan syahadat dengan lidahnya. Akhirnya
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya, “Hamzah
adalah pemimpin para syuhada, singa Allah dan singa Rasul-Nya dan paman Nabi.”
Sabda Nabi ini menebar aroma kesyahidan dan membuat dada Hamzah bergemuruh.
Hamzah pun meneteskan air mata kebahagiaan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam berdoa agar pamannya tetap tegar berdiri di jalan tauhid dan
segala keraguan di dalam hatinya segera sirna.
Menjelang Perang Uhud, Hamzah, perwira islam yang
gagah berani, berkata, “demi Allah yang mewahyukan Al-Qur’an, saya tidak akan
makan hari ini hingga saya bertempur dengan musuh di luar kota.” [2]
Perang Uhud terjadi pada bulan Ramadhan, kaum Muslimin berbaris dengan rapi
di kaki gunung Uhud di bagian utara Madinah. Setelah perang satu lawan satu,
maka dimulailah perang secara terbuka. Hamzah bertempur dengan gagah berani dan
penuh dengan keimanan yang meluap-luap. Dengan dua pedang di tangannya, ia
menyerang dengan penuh keberanian sambil berteriak, “Saya adalah singanya
Allah.”
Thalhah bin Abi Thalhah pembawa bendera kaum Musyrikin berteriak sambil
menantang, “Siapakah yang berani berhadapan denganku?” Ali bin Abi Thalib
bergegas mendekatinya dan menebaskan pedang ke arah kepalanya. Tebasan itu
membuat keningnya terbelah dan mengucurkan darah sehingga akhirnya ia pun
terjatuh dan terkulai ke tanah. Melihat itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam tersenyum seraya mengumandangkan takbir. Kaum Muslimin pun
serentak mengumandangkan takbir yang sama. Bendera kaum musyrikin tersebut
kemudian beralih ke tangan Utsman bin Abi Thalhah. Hamzah segera berlari ke
arahnya, dan mengayungkan pedang ke bahunya. Tebasan pedang Hamzah mematahkan
tangan dan bahunya, pedangnya terlepas dan paru-parunya terburai keluar. Hamzah bin
abdul muthalib membunuh Ustman bin abu thalhah dan surai.[3]
Hamzah kemudian kembali sembari
mengumandangkan syair, “Saya putra pemberi minum jamaah haji.”
Banyak kaum musyrikin yang terbunuh di perang tersebut di tangan Hamzah.
Diantaranya adalah pemegang bendera laskar Bani Abduddar, Atha’ bin Abdu dan
Utsman bin Abi Thalhah dan juga Saba’ bin Abdul `Uzzah dan Amru bin Fadlah.
5. Wahsyi Habasyi
Jabir bin Mut’im mempunyai budak yang bernama Wahsyi yang sebagaimana
orang-orang Habasyah lainnya terkenal pandai menombak dan jarang gagal mengenai
sasaran ketika melemparkan tombaknya. Pada perang Uhud Jabir berkata kepada
budaknya, “Pergilah bersama pasukan ini, dan jika kamu melihat pamannya
Muhammad maka bunuhlah dia. Aku ingin membalas dendamku atas kematian pamanku
Ta’imah bin Addi di perang Badar. Jika kamu berhasil membunuhnya maka kamu
kubebaskan.” Hindun, anak Utbah juga meminta Wahsyi untuk membunuh salah satu
dari Muhammad, Ali atau Hamzah untuk membayar kematian bapaknya. Wahsyi pun
menjawab, “Saya sama sekali tidak bisa menemukan cara untuk membunuh Muhammad
ataupun Ali pun. Mereka begitu lincah dan tangkas di medan perang. Namun Hamzah
mudah terjebak dalam kemarahan dan emosional saat terjadi peperangan sehingga
ia tidak memperhatikan lagi kondisi sekitarnya. Mungkin aku bisa membunuhnya
dengan cara licik.”
Wahsyi bercerita, “Saya pada perang Uhud selalu mengikuti Hamzah dari
belakang. Dia berperang bagaikan singa liar yang menerkam jantung
musuh-musuhnya. Saya bersembunyi di balik bebatuan dan pepohonan sehingga dia
tidak bisa melihatku. Ketika dalam keadaan sibuk menghadapi musuh-musuhnya,
saya pun semakin mendekat ke arah Hamzah. Dengan jarak yang menyakinkan sayapun
melemparkan tombakku ke arahnya. Tombak itupun tertancap di tubuhnya. Ia hendak
menyerang ke arahku, namun karena rasa sakit yang sangat ia pun berteriak tak
berdaya hingga ruhnya terpisah dari badannya. Dengan penuh kehati-hatian saya
pun mendekat ke arahnya. Setelah mengambil senjatanya, sayapun bergegas kembali
ke pusat pasukan kaum Quraisy sembari menunggu saya dibebaskan.”
Setibanya kembali di Mekkah, Wahsyi pun mendapat imbalan kebebasan setelah
ia menjalankan tugasnya dengan baik. Pada hari Fathul Mekkah (penaklukan kota
Mekkah) dia melarikan diri ke Thaif. Pada tahun ke Sembilan Hijriyah penduduk
Thaif datang berbondong-bondong ke Madinah untuk menyatakan keislamannya.
Wahsyi pun berencana kembali melarikan diri ke Syam atau Yaman. Namun ia
mendapat kabar, siapapun yang bersyahadat benar dengan lidahnya dan menyatakan
keislaman maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak akan
membunuhnya. Ia pun bergegas menghadap kepada Nabi Muhammad Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam dan kemudian mengucapkan syahadat sebagai pernyataan
keislamannya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memintanya untuk
menceritakan bagaimana ia bisa membunuh Hamzah. Setelah diceritakan Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam pun bersedih dan berkata kepada Wahsyi, “Mulai sekarang
jangan perlihatkan lagi wajahmu di hadapanku.” Atas permintaan Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam, Wahsyi pun menjauh dan tidak menampakkan diri di hadapan
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai kemudian beliau Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam wafat. Sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam, Wahsyi pun berkesempatan mengikuti perang melawan Musailamah.
Dengan dibantu seorang sahabat dari kaum Anshar, Wahsyi berhasil membunuh
Musailamah. Dengan penuh haru ia berkata, ”Saya telah membunuh manusia terbaik
setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan juga telah
membunuh manusia paling buruk di dunia.”
Akibat dari masa lalu yang gelap, Wahsyi sampai akhir hayatnya enggan untuk
berhubungan dengan kaum Muslimin. Namanya dihapus dari deretan laskar kaum
Muslimin karena sikapnya yang tidak baik dan karena banyak meminum minuman
keras ia pun sering dijatuhi hukuman cambukan. Umar bin Khattab berkata,
“Pembunuh Hamzah tidak akan lagi mendapat pembebasan dan tidak layak masuk dalam
daftar orang-orang baik.”
6. Istri Abu Sufyan dan Kebenciannya terhadap Hamzah
Hindun, anak perempuan Utbah memerintahkan kepada Wahsyi untuk membunuh
Hamzah sebagai penebus darah ayahnya. Dan Wahsyi pun menyanggupinya. Hindun
banyak membuat gelang kaki dan kalung leher dari telinga dan hidung para
syuhada Islam yang gugur pada perang sebelum perang Uhud. Ia memberikan dan
mengenakan semuanya itu pada Wahsyi dan meminta agar hati Hamzah diserahkan
kepadanya. Mengenai perbuatan yang sangat tidak pantas dan menjijikkan ini, Abu
Sufyan berkata, “Saya tidak pernah menyetujui perbuatan ini dan juga tidak
pernah memerintahkannya.” Karena perbuatan buruk Hindun ini, ia mendapat
julukan “pemakan hati”. Anak-anaknya pun dikenal dengan julukan anak dari si
pemakan hati.
Nama Hindun semakin menjijikkan ketika ia yang notebene masih saudara
sepupu Hamzah dan putri dari Utbah bin Abdul Muthalib berdiri di atas batu dan
dengan penuh rasa dendam ia menguyah-nguyah hati Hamzah. [4] Abu Sufyan pun ikut mendekati jasad
Hamzah dan bertindak tidak senonoh tehadap mulut Hamzah. Pada saat itu Hulais
bin Zabban yang kebetulan lewat di tempat itu melihat perbuatan yang tidak
senonoh Abu Sufyan lalu ia berteriak, “Wahai orang-orang, lihatlah tokoh besar
kabilah Quraisy ini dengan tanpa hati ia memperlakukan tidak senonoh kepada
anak pamannya sendiri.” Abu Sufyan merasa malu dengan perbuatannya sendiri dan
berkata, “Apa yang saya lakukan ini tidak pantas kau lihat, dan ini juga bukan
sebuah kesalahan besar.”
7. Kesedihan Rasulullah atas Syahidnya Hamzah
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada perang Uhud
berkali-kali menanyakan tentang keadaan pamannya. Salah seorang sahabat
Rasulullah bernama Harits bin Shamah bermaksud untuk memberikan kabar kepada
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun mengingat kondisi
jenazah Hamzah yang begitu memprihatinkan, ia tidak sampai hati menyampaikannya
kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena belum juga ada
kabar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan Ali bin
Abi Thalib untuk mencarinya. Namun sewaktu Ali juga melihat jenazah Hamzah
dalam kondisi tidak utuh lagi, ia pun terduduk disamping jenazah tersebut
dengan penuh kesedihan. Beliau pun berat menyampaikan berita duka tersebut
kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akhirnya mencari sendiri
jasad Hamzah. Beliaupun menemukan jasad Hamzah penghulu para syuhada yang
begitu mengenaskan. Beliau bersabda, “Tidak ada musibah yang lebih besar dari
kematianmu dan tidak ada kesedihanku yang lebih sulit dari ini.” Setelah itu, beliau
berkata, “Jika sekiranya Allah memberiku kekuatan, aku akan membalas kematian
Hamzah dan akan kubunuh 70 orang Quraisy dan akan kupong tubuh mereka.” Pada
saat itu malaikat Jibril datang dan membacakan sebuah surah yang berbunyi, “Dan
jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan
yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang
lebih baik bagi orang yang sabar.”
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah mendengar ayat
tersebut bersabda, “Saya akan bersabar dan tidak akan membalas dendam.”
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun mengambil jubahnya dan
menutupi wajah Hamzah. Namun jubah itu terlalu pendek bagi Hamzah. Jika jubah
itu menutupi kepala maka kaki Hamzah terlihat jelas, namun jika ditarik untuk
menutupi kakinya, kepalanya akan terlihat. Karenanya Rasulullah menarik jubah
tersebut menutupi kepala Hamzah dan menutupi kaki Hamzah dengan rerumputan dan
ilalang. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sekiranya
perempuan-perempuan Abdul Muthalib tidak bersedih, saya akan meninggalkan dia
dalam keadaan seperti ini dan membiarkan binatang-binatang padang pasir
memangsa dagingnya hingga sampai hari kiamat ia akan tetap berada dalam perut
mereka. Semakin besar musibah yang dihadapinya, maka akan semakin besar pula pahala
yang akan didapatnya.”
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri beberapa saat di
sisi jenazah Hamzah dan berkata, “Jibril datang di sisiku dan memberikan kabar
bahwa diantara penghuni tujuh lapisan langit tertulis, Hamzah bin Abdul
Muthalib asadullah wa asadur rasuluhu (Hamzah bin Abdul Muthalib, singa Allah
dan singa Rasul-Nya).
Atas perintah Rasulullah saw, Hamzah bersama Abdullah bin Jahasy, syuhada
Uhud yang juga dimutilasi dimana telinga dan hidungnya terpotong dikuburkan
dalam satu makam. Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersama
sahabat-sahabatnya kembali ke Madinah. Haminah, putri Jahasy dan saudara
perempuan Abdullah menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Ketika Rasulullah menyampaikan kabar mengenai kesyahidan Abdullah, Haminah
berkata, “Inna lillahi wa inna ilahi raji’un, saya memohonkan ampun
kepada Allah atas kesalahan-kesalahannya.” Setelah itu ia bertanya mengenai
kabar Hamzah. Ketika mendengar kabar kesyahidan Hamzah, ia kembali mengucapkan
hal yang sama dan memohon kepada Allah agar dosa-dosa keduanya diampuni-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar