Kamis, 07 Februari 2013

KEPAHLAWANAN HAMZAH BIN ABDUL MUTHALIB



JUDUL: KEPAHLAWANAN HAMZAH BIN ABDUL MUTHALIB


A.    PENDAHULUAN

Allah Subhnahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 100
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ [٩:١٠٠]
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

Di antara sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang terkenal paling pemberani adalah paman beliau sendiri, Hamzah bin Abdul Muthalib. Beliau seorang lelaki Arab yang paling berani, pejuang yang pantang mundur, dan komandan perang Islam yang cerdas dalam beberapa peperangan yang sangat menentukan masa depan Islam, seperti perang Badar dan Uhud. Dengan keahlian perangnya yang mumpuni, dia menjadi salah seorang penentu kemenangan perang Badar dengan beberapa sahabat Nabi lainnya yang gagah berani, meskipun saat itu jumlah pasukan kaum Muslimin sedikit.
Hamzah senantiasa berada di sisi kemenakannya sendiri, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan di saat tersulit pun ia selalu setia membela risalah yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pemimpin dan pembesar Quraisy takut dan khawatir akan keberanian beliau. Dan ketakutan itu membuat mereka tidak punya nyali untuk mencegah laju dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sehingga bisa dikatakan, Hamzah memainkan peran penting dalam mempertahankan dan menjaga Islam serta membela Nabi demi keberlangsungan dan keabadian ajaran suci Islam.
Selama di Mekkah, Hamzah membantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di saat-saat genting dengan sepenuh jiwa. Beliau rela berkorban dan tak segan-segan menjadikan dirinya sebagai tumbal saat berhadapan langsung dengan kaum musyrikin.

B.     PEMBAHASAN

1.      Nama Dan Kelahirannya

Beliau adalah putra Abdul Muthalib dan paman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau lahir pada tahun keempat sebelum peristiwa pasukan gajah (Tahun Gajah) di kota Mekkah. Di tengah masa Jahilah dan tersebarnya akidah syirik pada penduduk Hijaz, beliau tetap berpegang pada ajaran lurus Nabi Ibrahim dan dikenal sebagai pemuda yang senantiasa memberikan perlindungan kepada orang-orang lemah.
Ayahnya adalah Abdul Muthalib dan ibunya anak perempuan dari Amru bin Zaid bin Lubaid yang bernama Salmi.

2.      Saudara Sepersusuan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Hamzah sangat dekat dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kedekatan ini tidak hanya dari sisi spiritual namun juga dari sisi material. Tsubah, budak Abu Lahab pernah menyusui Hamzah dan sewaktu menyusui anaknya yang bernama Masruh, ia juga menyusui Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selama beberapa hari. Sehingga dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Hamzah dan Nabi adalah saudara sepersusuan.
Sewaktu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memulai menyebarkan ajaran sucinya dan masyarakat secara bertahap menerima ajaran tauhid dan pesan-pesan Al-Qur’an, Hamzah pun sebenarnya telah mengetahui dan tertarik dengan kebenaran ajaran Ilahi dan dakwah kemenakannya, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun demi kemaslahatan saat itu ia belum menampakkan keimanan dan keyakinannya. Ia seolah menunggu moment yang tepat untuk menunjukkan ketertarikan dan kecintaannya terhadap Islam dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta mendukung risalah Ilahi secara terang-terangan.
Karena Hamzah hidup bersama kaum musyrikin maka ia mengetahui pelbagai konspirasi mereka terhadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal itulah yang membuatnya semakin tergugah dan tegar untuk membela Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Setiap dakwah Islam semakin bertumbuh dan jumlah kaum Muslimin semakin bertambah maka perlawanan kaum musyrikin pun semakin hebat. Keteguhan dan ketegaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di jalan kebenaran dan syariat Ilahi begitu menggugah perasaan Hamzah. Beberapa tahun setelah masa pengangkatan Nabi berlalu, terbuka kesempatan bagi Hamzah untuk menunjukkan keimanan dan akidahnya. Sebagian mengatakan bahwa Hamzah masuk Islam pada tahun kedua pasca bi’tsah (masa pengangkatan Nabi), sebagiannya lagi menyakini pada tahun keenam pasca bi’tsah. Kisah mengenai masuk Islamnya beliau sangat menarik:
Setelah pengangkatan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadi Nabi, Hamzah juga mengucapkan syahadat dengan menyakini keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala  dan kebenaran agama yang dibawah oleh putra saudaranya. Setelah Hamzah masuk Islam, kaum Quraisy mengajukan beberapa permintaan/usulan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebab mereka sadar bahwa laki-laki yang paling berani kini telah menyatakan keimanannya di hadapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sehingga karena itu mereka tak lagi dapat mengharapkan dukungannya. Namun Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tak memenuhi satupun dari permintaan mereka.
Usai Abu Jahal menyampaikan pidatonya di tengah-tengah Kabilah Quraisy, mereka memutuskan untuk membunuh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Suatu hari Abu Jahal melihat Nabi di bukit Safa, lalu ia memaki beliau. beliau tetap saja berjalan menuju ke rumah beliau tanpa memperdulikan makian Abu Jahal. Budak Abdullah bin Jad’an yang menjadi saksi mata atas peristiwa tersebut melaporkannya kepada Hamzah. Tanpa berpikir panjang dan memikirkan akibatnya, Hamzah memutuskan untuk membalas perlakukan buruk yang didapat oleh kemenakannya. Di tengah perjalanan ia menemui Abu Jahal yang berada di tengah kerumunan orang-orang Quraisy. Tanpa memberikan kesempatan kepada yang lain untuk berbicara, ia mendekati Abu Jahal dan langsung menghantam kepalanya dengan cambuk, sehingga kepala Abu Jahal bersimbah darah. Hamzah pun berkata, “Berani kau menghina Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Saya beriman dengan apa yang dikatakannya dan akan mengikuti jalan kemanapun dia pergi. Jika kau berani, silakan berhadapan denganku!” Dengan menghadap kepada orang-orang Quraisy, Abu Jahal berkata, “Saya telah berbuat buruk pada Muhammad, dan wajar Hamzah marah.”
Ketika penyiksaan kaum Musyrikin kepada pengikut Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam semakin menjadi-jadi, beberapa sahabat beliau berhijrah ke Habasyah. Tidak berapa lama kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun akhirnya memutuskan untuk berhijrah ke Madinah. Beberapa kelompok kaum Muslimin Yatsrib bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di Mina saat mereka melaksanakan ibadah haji. Mereka berjanji bahwa jika sekiranya Rasulullah saw dan kaum Muslimin lainnya berhijrah ke Madinah maka mereka akan memberikan perlindungan terhadap umat Islam yang teraniaya tersebut.
Demi kelancaran pertemuan dan keberlangsungan perjanjian tersebut, Hamzah melindungi dan menyembunyikan pertemuan tersebut dari kaum Musyrikin. Akhirnya, setelah satu dua tahun kemudian kaum Muslimin mendapat kesempatan dan peluang untuk berhijrah. Sebelum Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berhijrah, beberapa kelompok terlebih dahulu berhijrah ke Yatsrib dan Hamzah ikut di antara mereka. Setibanya di Madinah, mereka menunggu detik-detik kedatangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Akhirnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Hijrah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini membuat kekuatan umat Islam semakin bertambah, sekaligus membuat permusuhan kaum Musyrikin melemah. Sampai akhirnya umat Islam dan kaum musyrikin saling berhadap-hadapan pada perang Badar. Pada perang yang pertama kali ini Sayyidina Hamzah mendapat gelar asadullah wa asadurrasul (singa Allah dan Rasul-Nya). Saat itu beliau diserahi amanah oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menjadi komandan perang dimana bendera perang ada di tangannya. Hamzah memimpin pasukan Islam yang hanya berjumlah 30 orang untuk berhadapan dengan 300 orang dari laskar Quraisy. Peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadhan, tahun pertama hijriyah. Meskipun tidak terjadi kontak fisik antara kedua kubu namun Hamzah merasa terhormat dan bangga ketika ditunjuk oleh Nabi sebagai pimpinan pasukan.

3.      Kepahlawanannya dalam Peperangan

Perkembangan dakwah Islam yang pesat membuat kaum Quraisy semakin murka dan semakin meningkatkan penyiksaan dan permusuhan mereka terhadap umat Islam. Bahkan Abu Lahab, paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan istrinya berkali-kali bersikap buruk terhadap Rasulullah saw, utamanya ketika mereka bertetangga dengan beliau. Nabi saw tidak mampu berbuat apa-apa ketika kepala dan wajah beliau dilempari berbagai kotoran dan sampah serta kotoran kambing. Hamzah pun membalas tindakan setimpal yang dilakukan oleh Abu Lahab.
Sariyah (perang yang tidak diikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) pertama: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berhijrah dari Mekah ke Madinah pada hari Senin 12 Rabiul Awal dan bendera pertama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang berwarna putih, pada bulan Ramadhan, awal bulan ketujuh tahun pertama Hijriyah, diserahkannya kepada Hamzah, pamannya. Abu Marshad Kannas bin Hushain Ganawi, termasuk orang pertama yang masuk Islam dan sekaligus teman sebaya Hamzah, mengikatkan bendera itu di pundaknya. Rasulullah saw mengutus Hamzah dengan 30 sahabat Muhajirin menuju ke medan perang untuk menghadapi 300 orang pasukan Quraisy. Pasukan Quraisy ini dipimpin oleh Abu Jahal. Saat itu pasukan musuh telah melakukan perjalanan dari Syam dan ingin kembali ke Mekah. Di salah satu desa di tepi laut merah dua pasukan ini bertemu. Mujaddi bin Amru Jahni yang memiliki hubungan baik dengan kedua belah pihak menjadi mediator dan berusaha keras agar kedua kelompok berunding dan mencegah terjadinya peperangan.
Pada bulan Safar tahun awal Hijriyah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ikut serta dalam Ghazwah Abwa (perang yang diikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) Abwa untuk pertama kalinya. Abwa adalah tempat yang berjarak 37 km di antara Mekah dan Madinah. Saat itu beliau memberikan bendera putih kepada Hamzah. Dalam Ghazwah ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertekad untuk menghadapi kafilah Quraisy, namun beliau tidak bertemu langsung dengan pasukan musuh.
Pada bulan Jumadil Akhir tahun kedua Hijriyah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berangkat menuju Gazhwa Dzul’asyirah dan lagi-lagi beliau memberikan bendera putih kepada Hamzah. Beliau bergerak bersama 150 pasukan sukarelawan Muhajirin. Kelompok pasukan ini memiliki 30 ekor unta dan mereka saling bergantian mengendarainya. Ketika Rasulullah saw dan sahabat-sahabatnya tiba di Dzul’asyirah, pasukan kaum kafir Quraisy telah melewatinya sejak beberapa hari sebelumnya. Ketika kembali pun, pasukan musuh melewati tepian pantai sehingga tidak bertemu dengan Rasulullah saw dan para sahabatnya.
Pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah terjadi perang antara kaum Muslimin dengan kaum kuffar Quraisy yang dikenal dengan nama perang Badar. Sewaktu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merapikan barisan kaum Muslimin, tiba-tiba angin berhembus dengan sangat kencang yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dan angin kencang ini bertiup berulang sampai beberapa kali. Angin kencang ini sebagai pertanda kedatangan para malaikat. Yang pertama, Malaikat Jibril dengan seribu malaikat lainnya datang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang kedua Malaikat Mikail dengan seribu malaikat di sebelah kanan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan yang ketiga Malaikat Israfil dengan seribu malaikat disisi kiri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kesemua malaikat ini mengenakan sorban (ikat kepala) yang terbuat dari cahaya yang berwarna hijau, kuning dan merah yang menggelantung sampai di pundak mereka, dan mereka menggantungkan bulu dan rambut di dahi unta-unta mereka.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada sahabat-sahabatnya, bahwa mereka adalah malaikat-malaikat yang akan memberikan bantuan dan dukungan kepada kaum Muslimin. Para malaikat telah menandai diri mereka, maka kalian pun hendaklah melakukan hal yang sama. Lalu para sahabat mendandai topi besi yang dikenakan di kepala mereka dengan bulu onta.
Orang yang pertama kali tiba di medan pertempuran dari kaum Muslimin adalah Muhajja` (budak yang dimerdekakan oleh Umar bin Khaththab). Kaum musyrikin berteriak dengan keras, “Hai Muhammad, siapa saja yang punya hubungan dengan kami, kirimlah dia untuk berperang dengan kami.” Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada Bani Hasyim, “Bangkitlah! Berperanglah demi kebenaran yang dengannya Nabi kalian diutus dan mereka datang untuk memadamkan cahaya kebenaran itu.!!!”
Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali bin Abi Thalib dn Ubaidah bin Harits bin Muthalib keluar dari barisan dan menuju mereka. Karena ketiga orang tersebut mengenakan penutup kepala sehingga sulit untuk dikenali. Utbah berkata, “Berbicaralah sehingga kami dapat mengenali suara kalian!” Hamzah berkata, “Sayalah Hamzah, putra Abdul Muthalib, singa Allah dan singa Rasul-Nya.” Utbah berkata, “Ya, kamu adalah pembesar, lantas siapa dua orang bersamamu ini?” Hamzah menjawab, “Ali bin Abi Thalib dan Ubaidah bin Harits”. Utbah berkata, “Dua orang bersamamu juga adalah juga orang-orang besar”.
Waktu itu Ali bin Abi Thalib berhadapan dengan Walid bin Utbah dan berhasil membunuhnya. Sementara Hamzah berduel dengan Utbah dan juga berhasil membunuhnya dengan hanya dua pukulan. Dan Ubaidah bin Harits sahabat Nabi yang paling muda saat itu berdiri menghadapi Syaibah. Syaibah memukulkan pedangnya pada kaki Ubaidah dan membuat pergelangan kaki Ubaidah terpotong. Melihat itu Hamzah, singa Allah dan Rasul-Nya bersama Ali segera menyerang Syaibah dan mereka berhasil membunuhnya.
Dalam perang ini, Abdurrahman bin Auf dan Bilal Habasyi berhasil menawan Umayyah bin Khalf dan anaknya. Bilal berkata, ”Waktu itu saya berada diantara Umayyah dan anaknya, kemudian saya menangkap mereka. Umayyah bertanya kepada saya, “Siapa diantara kalian yang menandai dadanya dengan bulu onta?”. Saya menjawab, “Hamzah bin Abdul Muthalib.” Ia berkata, “Hamzah membawa malapetaka atas diri kami.”
Pertengahan Syawal tahun kedua Hijriyah. Kabilah Bani Qainuqa’, kelompok yang paling berani diantara kelompok kaum Yahudi yang berprofesi sebagai pandai besi memiliki ikatan perjanjian dengan Abdullah bin Ubay dan juga Rasulullah saw. Ketika terjadi perang Badar, kebencian dan rasa dengki membuat mereka memutuskan untuk membatalkan perjanjian. Allah Subhanahu wa Ta’ala  menurunkan surah Al-Anfal ayat 58 kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,
“Dan jika engkau (Muhammad) khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berkhianat.”

Dengan turunnnya ayat ini, Rasulullah menjadi waspada terhadap Bani Qainuqa’. Beliau menyerahkan bendera ke tangan Hamzah dan memerintahkannya dengan beberapa pasukan untuk menghadapi mereka. Bani Qainuqa’ adalah kelompok Yahudi yang pertama kali melakukan pengkhianatan kepada Islam. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baru melakukan pengepungan, kontan saja mereka merasa ketakutan, sehingga mereka pun menyerah kepada kaum Muslimin dan menyerahkan harta-harta mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Bebaskan mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melaknat mereka dan Abdullah bin Ubay”.
Perang Uhud: Akhir Syawal tahun kedua Hijriyah menjelang terjadinya perang Uhud. Hamzah, sebagai panglima perang—sebelum memulai perang— berkata, “Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menurunkan Al-Qur’an, hari ini saya tidak akan menyentuh sedikit pun makanan sampai saya menghadapi lawan dalam peperangan.”
Ketika terjadi kesalah pahaman terjadi di antara para sahabat tentang sikap yang harus diambil terkait dengan kedatangan pasukan kafir kuraisy dari makkah,  apakah tetap bertahan di madinah atau keluar menyongsong musuh. Untuk mengklarifikasi hal tersebut kepada Rasulullah, mereka pun mengutus hamzah untuk menemui Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam. Berkata Hamzah kepada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Rasulullah, orang-orang sedang berselisih dan saling mencelah. Mereka berpesan kepadaku untuk mengatakan kepada anda bahwa segala keputusan sekarang ini tergantung kepada anda” mendengar perkataan Hamzah, beliau bersabda, “bukanlah seorang nabi bila ia telah memakai baju zirahnya lalu menanggalkan dan surut sebelum perang terlaksana.”[1]

4.      Hamzah bersama Kaum Muslimin

Di malam hari perang Uhud, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tahu bahwa tidak lama lagi pamannya akan gugur sebagai syahid. Beliau pun berbincang dengan Hamzah dan menanyakan kembali keyakinannya mengenai ketauhidan dan kenabian serta risalah yang dibawanya. Hamzah kemudian menjawab dengan tegas dan kembali mengucapkan syahadat dengan lidahnya. Akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya, “Hamzah adalah pemimpin para syuhada, singa Allah dan singa Rasul-Nya dan paman Nabi.” Sabda Nabi ini menebar aroma kesyahidan dan membuat dada Hamzah bergemuruh. Hamzah pun meneteskan air mata kebahagiaan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa agar pamannya tetap tegar berdiri di jalan tauhid dan segala keraguan di dalam hatinya segera sirna.
Menjelang Perang Uhud, Hamzah, perwira islam yang gagah berani, berkata, “demi Allah yang mewahyukan Al-Qur’an, saya tidak akan makan hari ini hingga saya bertempur dengan musuh di luar kota.” [2]
Perang Uhud terjadi pada bulan Ramadhan, kaum Muslimin berbaris dengan rapi di kaki gunung Uhud di bagian utara Madinah. Setelah perang satu lawan satu, maka dimulailah perang secara terbuka. Hamzah bertempur dengan gagah berani dan penuh dengan keimanan yang meluap-luap. Dengan dua pedang di tangannya, ia menyerang dengan penuh keberanian sambil berteriak, “Saya adalah singanya Allah.”
Thalhah bin Abi Thalhah pembawa bendera kaum Musyrikin berteriak sambil menantang, “Siapakah yang berani berhadapan denganku?” Ali bin Abi Thalib bergegas mendekatinya dan menebaskan pedang ke arah kepalanya. Tebasan itu membuat keningnya terbelah dan mengucurkan darah sehingga akhirnya ia pun terjatuh dan terkulai ke tanah. Melihat itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersenyum seraya mengumandangkan takbir. Kaum Muslimin pun serentak mengumandangkan takbir yang sama. Bendera kaum musyrikin tersebut kemudian beralih ke tangan Utsman bin Abi Thalhah. Hamzah segera berlari ke arahnya, dan mengayungkan pedang ke bahunya. Tebasan pedang Hamzah mematahkan tangan dan bahunya, pedangnya terlepas dan paru-parunya terburai keluar. Hamzah bin abdul muthalib membunuh Ustman bin abu thalhah dan surai.[3] Hamzah kemudian kembali sembari mengumandangkan syair, “Saya putra pemberi minum jamaah haji.”
Banyak kaum musyrikin yang terbunuh di perang tersebut di tangan Hamzah. Diantaranya adalah pemegang bendera laskar Bani Abduddar, Atha’ bin Abdu dan Utsman bin Abi Thalhah dan juga Saba’ bin Abdul `Uzzah dan Amru bin Fadlah.

5.      Wahsyi Habasyi

Jabir bin Mut’im mempunyai budak yang bernama Wahsyi yang sebagaimana orang-orang Habasyah lainnya terkenal pandai menombak dan jarang gagal mengenai sasaran ketika melemparkan tombaknya. Pada perang Uhud Jabir berkata kepada budaknya, “Pergilah bersama pasukan ini, dan jika kamu melihat pamannya Muhammad maka bunuhlah dia. Aku ingin membalas dendamku atas kematian pamanku Ta’imah bin Addi di perang Badar. Jika kamu berhasil membunuhnya maka kamu kubebaskan.” Hindun, anak Utbah juga meminta Wahsyi untuk membunuh salah satu dari Muhammad, Ali atau Hamzah untuk membayar kematian bapaknya. Wahsyi pun menjawab, “Saya sama sekali tidak bisa menemukan cara untuk membunuh Muhammad ataupun Ali pun. Mereka begitu lincah dan tangkas di medan perang. Namun Hamzah mudah terjebak dalam kemarahan dan emosional saat terjadi peperangan sehingga ia tidak memperhatikan lagi kondisi sekitarnya. Mungkin aku bisa membunuhnya dengan cara licik.”
Wahsyi bercerita, “Saya pada perang Uhud selalu mengikuti Hamzah dari belakang. Dia berperang bagaikan singa liar yang menerkam jantung musuh-musuhnya. Saya bersembunyi di balik bebatuan dan pepohonan sehingga dia tidak bisa melihatku. Ketika dalam keadaan sibuk menghadapi musuh-musuhnya, saya pun semakin mendekat ke arah Hamzah. Dengan jarak yang menyakinkan sayapun melemparkan tombakku ke arahnya. Tombak itupun tertancap di tubuhnya. Ia hendak menyerang ke arahku, namun karena rasa sakit yang sangat ia pun berteriak tak berdaya hingga ruhnya terpisah dari badannya. Dengan penuh kehati-hatian saya pun mendekat ke arahnya. Setelah mengambil senjatanya, sayapun bergegas kembali ke pusat pasukan kaum Quraisy sembari menunggu saya dibebaskan.”
Setibanya kembali di Mekkah, Wahsyi pun mendapat imbalan kebebasan setelah ia menjalankan tugasnya dengan baik. Pada hari Fathul Mekkah (penaklukan kota Mekkah) dia melarikan diri ke Thaif. Pada tahun ke Sembilan Hijriyah penduduk Thaif datang berbondong-bondong ke Madinah untuk menyatakan keislamannya. Wahsyi pun berencana kembali melarikan diri ke Syam atau Yaman. Namun ia mendapat kabar, siapapun yang bersyahadat benar dengan lidahnya dan menyatakan keislaman maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak akan membunuhnya. Ia pun bergegas menghadap kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kemudian mengucapkan syahadat sebagai pernyataan keislamannya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memintanya untuk menceritakan bagaimana ia bisa membunuh Hamzah. Setelah diceritakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun bersedih dan berkata kepada Wahsyi, “Mulai sekarang jangan perlihatkan lagi wajahmu di hadapanku.” Atas permintaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Wahsyi pun menjauh dan tidak menampakkan diri di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai kemudian beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat. Sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Wahsyi pun berkesempatan mengikuti perang melawan Musailamah. Dengan dibantu seorang sahabat dari kaum Anshar, Wahsyi berhasil membunuh Musailamah. Dengan penuh haru ia berkata, ”Saya telah membunuh manusia terbaik setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan juga telah membunuh manusia paling buruk di dunia.”
Akibat dari masa lalu yang gelap, Wahsyi sampai akhir hayatnya enggan untuk berhubungan dengan kaum Muslimin. Namanya dihapus dari deretan laskar kaum Muslimin karena sikapnya yang tidak baik dan karena banyak meminum minuman keras ia pun sering dijatuhi hukuman cambukan. Umar bin Khattab berkata, “Pembunuh Hamzah tidak akan lagi mendapat pembebasan dan tidak layak masuk dalam daftar orang-orang baik.”

6.      Istri Abu Sufyan dan Kebenciannya terhadap Hamzah

Hindun, anak perempuan Utbah memerintahkan kepada Wahsyi untuk membunuh Hamzah sebagai penebus darah ayahnya. Dan Wahsyi pun menyanggupinya. Hindun banyak membuat gelang kaki dan kalung leher dari telinga dan hidung para syuhada Islam yang gugur pada perang sebelum perang Uhud. Ia memberikan dan mengenakan semuanya itu pada Wahsyi dan meminta agar hati Hamzah diserahkan kepadanya. Mengenai perbuatan yang sangat tidak pantas dan menjijikkan ini, Abu Sufyan berkata, “Saya tidak pernah menyetujui perbuatan ini dan juga tidak pernah memerintahkannya.” Karena perbuatan buruk Hindun ini, ia mendapat julukan “pemakan hati”. Anak-anaknya pun dikenal dengan julukan anak dari si pemakan hati.
Nama Hindun semakin menjijikkan ketika ia yang notebene masih saudara sepupu Hamzah dan putri dari Utbah bin Abdul Muthalib berdiri di atas batu dan dengan penuh rasa dendam ia menguyah-nguyah hati Hamzah. [4] Abu Sufyan pun ikut mendekati jasad Hamzah dan bertindak tidak senonoh tehadap mulut Hamzah. Pada saat itu Hulais bin Zabban yang kebetulan lewat di tempat itu melihat perbuatan yang tidak senonoh Abu Sufyan lalu ia berteriak, “Wahai orang-orang, lihatlah tokoh besar kabilah Quraisy ini dengan tanpa hati ia memperlakukan tidak senonoh kepada anak pamannya sendiri.” Abu Sufyan merasa malu dengan perbuatannya sendiri dan berkata, “Apa yang saya lakukan ini tidak pantas kau lihat, dan ini juga bukan sebuah kesalahan besar.”

7.      Kesedihan Rasulullah atas Syahidnya Hamzah

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada perang Uhud berkali-kali menanyakan tentang keadaan pamannya. Salah seorang sahabat Rasulullah bernama Harits bin Shamah bermaksud untuk memberikan kabar kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun mengingat kondisi jenazah Hamzah yang begitu memprihatinkan, ia tidak sampai hati menyampaikannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena belum juga ada kabar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk mencarinya. Namun sewaktu Ali juga melihat jenazah Hamzah dalam kondisi tidak utuh lagi, ia pun terduduk disamping jenazah tersebut dengan penuh kesedihan. Beliau pun berat menyampaikan berita duka tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akhirnya mencari sendiri jasad Hamzah. Beliaupun menemukan jasad Hamzah penghulu para syuhada yang begitu mengenaskan. Beliau bersabda, “Tidak ada musibah yang lebih besar dari kematianmu dan tidak ada kesedihanku yang lebih sulit dari ini.” Setelah itu, beliau berkata, “Jika sekiranya Allah memberiku kekuatan, aku akan membalas kematian Hamzah dan akan kubunuh 70 orang Quraisy dan akan kupong tubuh mereka.” Pada saat itu malaikat Jibril datang dan membacakan sebuah surah yang berbunyi, “Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar.”
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah mendengar ayat tersebut bersabda, “Saya akan bersabar dan tidak akan membalas dendam.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun mengambil jubahnya dan menutupi wajah Hamzah. Namun jubah itu terlalu pendek bagi Hamzah. Jika jubah itu menutupi kepala maka kaki Hamzah terlihat jelas, namun jika ditarik untuk menutupi kakinya, kepalanya akan terlihat. Karenanya Rasulullah menarik jubah tersebut menutupi kepala Hamzah dan menutupi kaki Hamzah dengan rerumputan dan ilalang. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sekiranya perempuan-perempuan Abdul Muthalib tidak bersedih, saya akan meninggalkan dia dalam keadaan seperti ini dan membiarkan binatang-binatang padang pasir memangsa dagingnya hingga sampai hari kiamat ia akan tetap berada dalam perut mereka. Semakin besar musibah yang dihadapinya, maka akan semakin besar pula pahala yang akan didapatnya.”
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri beberapa saat di sisi jenazah Hamzah dan berkata, “Jibril datang di sisiku dan memberikan kabar bahwa diantara penghuni tujuh lapisan langit tertulis, Hamzah bin Abdul Muthalib asadullah wa asadur rasuluhu (Hamzah bin Abdul Muthalib, singa Allah dan singa Rasul-Nya).
Atas perintah Rasulullah saw, Hamzah bersama Abdullah bin Jahasy, syuhada Uhud yang juga dimutilasi dimana telinga dan hidungnya terpotong dikuburkan dalam satu makam. Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersama sahabat-sahabatnya kembali ke Madinah. Haminah, putri Jahasy dan saudara perempuan Abdullah menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketika Rasulullah menyampaikan kabar mengenai kesyahidan Abdullah, Haminah berkata, “Inna lillahi wa inna ilahi raji’un, saya memohonkan ampun kepada Allah atas kesalahan-kesalahannya.” Setelah itu ia bertanya mengenai kabar Hamzah. Ketika mendengar kabar kesyahidan Hamzah, ia kembali mengucapkan hal yang sama dan memohon kepada Allah agar dosa-dosa keduanya diampuni-Nya.



[1] Mahdi Rizkullah Ahmad,  Biografi Rasulullah, jakarta: Tim Qisthi Press, 2000 , Hal. 485
[2] Ja’far Subhani, Ar-Risalah: Sejarah kehidupan Rasul Saw, Jakarta: Lentera, 2004, Hal. 360
[3] Muenawar Chalil, kelengkapan tarikh Nabi Muhammd, Jakarta: Gema Insani, 2008, Hal, 114
[4] Mustafa Assiba’i, Seri  Sejarah Perjuangan Rasulullah Saw, Jakarta: media Dakwah, 2000, Hal. 101

Tidak ada komentar:

Posting Komentar