DISKURSUS PENDIDIKAN SPIRITUAL DALAM PENDIDIKAN ISLAM
OLEH : MISJAYA
Menurut Al-Qur’an, jati diri manusia yang paling
asasi adalah manusia sebagai makhluk spiritual atau rohani. Man is spiritual being. Tanpa rohani,
manusia tidak berbeda dengan
tumbuh-tumbuhan atau hewan. Kehadiran rohani atau ruh[1] yang
pada dasarnya baik, mempunyai misi sebagai memimpin seluruh organ tubuh dan
jiwa untuk berbuat kebaikan dan menyebabkan kasih sayang Tuhan kepada seluruh
alam.[2]
Basis kehidupan manusia adalah spiritualitasnya,
peristiwa perjanjian primordial antara manusia dengan Allah di zaman azali
menunjukkan betapa masalah hubungan atau keterkaitan antara manusia sebagai
makhluk dengan Allah Ta’ala sebagai
Pencipta sangat penting adanya.[3]
Sebagaimana perjanjian itu bisa disimak dalam Al-Qur’an Sutrat Al-A’raaf (7):
172, yang artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan
keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian
terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka
menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang
demikan itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami
(Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (Keesaan Tuhan.”[4]
Kajian dan penelitian tentang spiritual telah banyak
menyita perhatian banyak pihak, baik pihak akademisi, politisi, psikolog,
filsuf, dan yang lainnya. Khususnya dalam kajian spiritual pespektif pendidikan
Islam, telah banyak dilakukan akan tetapi hasil analisisnya masih mengikuti
pendapat-pendapat penulis Barat seperti Danah Zohar dan suaminya Ian marshall.
Mereka bersepakat bahwa apa yang menjadi kesimpulan Danah Zohar dan Ian
Marshall, terkait dengan kecerdasan
spiritual sebagai sarana untuk keluar dari berbagai macam permasalahan hidup, sejalan
dengan prinsip-prinsip Islam secara umum. Walaupun dalam rincian penjelasannya,
bahwa kecerdasan spiritual Barat lebih berorientasi pada penyelesaian dan
pencapaian kebahagiaan dunia semata.[5]
Standar ketenangan dan kebagaiaan pada konsep
spiritual perlu dideskripsikan secara jelas, agar konsep ketenangan dan
kebahagiaan versi Barat dan Islam menjadi jelas. Berkata Al-Ghazali seperti
yang dikutip Anwar Sanusi dalam tulisannya; “Jalan Kebahagiaan”, bahwa kebahagian dan kelezatan sejati adalah
bila seseorang dapat mengingat Allah.[6]
Untuk meraih kebahagiaan dan kesejahteraan hidup
didunia dan di akhirat, iman, ilmu, dan amal senantiasa menjadi bagian yang
padu, yaitu tidak terpisahkan.[7] Dari
sini dapat disimpulkan bahwa ketenangan dan kebahagiaan dapat dicapai hanya
dengan satu jalan yaitu mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala melalui berbagai macam bentuk ibadah yang telah
disyariatkan-Nya.
Untuk mencapai kecerdasan spiritual yang ideal,
serta mampu merealisasikannya dalam kehidupan nyata, harus melalui sebuah
proses yang disebut pendidikan. Pendidikan senantiasa ada sepanjang sejarah
kehidupan manusia, hampir tidak ada kelompok manusia yang tidak menggunakan
pendidikan sebagai sarana pembudayaan dan peningkatan kualitasnya, meskipun
dengan sistem dan metode yang berbeda-beda. Semua berjalan sesuai dengan taraf
hidup dan budaya masing-masing. Bahkan pendidikan juga senantiasa dijadikan
sarana penerapan suatu pandangan hidup.[8]
Pendidikan Islam dengan segala bentuknya, mempunyai
peran dan fungsi yang sangat penting dan menentukan. Melalui upaya pendidikan
Islam, nilai-nlai yang terkandung dalam ajaran Islam, dapat diberikan kepada
anak didik, yang kelak akan menjadi
anggota dan pemimpin masyarakat. Sebagai anggota dan pemimpin masyarakat, ia
mempunyai tugas dan tanggung jawab mengarahkan dirinya dan masyarakatnya
memiliki kepribadian yang takwa dengan spiritualitas yang tinggi.[9]
Sumber daya manusia yang berkualitas dengan
spiritualitas tinggi hanya dapat dihasilkan oleh lembaga pendidikan yang dikelola
dan diselenggarakan dengan baik dan profesional serta berkualitas unggul.[10]
Terjadinya berbagai macam kerusakan di
seluruh dimensi kehidupan orang-orang
Barat saat ini, dipicu oleh kekeliruan mereka dalam memaknai ilmu,
termasuk di dalamnya adalah konsep kecerdasan spiritual.
Kemajuan peradaban Barat yang dimotori oleh kemajuan
sains dan teknologi termasuk teknologi informasi dan komunikasi berdampak pada
menguatnya sistem sekularistik dalam keseluruhan sistem kehidupan mereka. Maka
ditengah-tengah sistem sekularistik tersebut, lahirlah berbagai bentuk tatanan
yang jauh dari nilai-nilai agama.
Dalam bidang ekonomi
misalnya, sistem yang berlaku adalah sistem ekonomi yang kapilistik. Dalam
bidang politik, sistem perpolitikan yang didominasi oleh perilaku politik yang
oportunistik. Di bidang budaya, yang terbangun adalah budaya hedonistik,
kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik dan paradigma
pendidikan yang materialistik.[11]
Dalam tatanan ekonomi
materialistik, kegiatan ekonomi digerakkan sekadar demi meraih perolehan materi
tanpa memandang aturan-atuaran dan norma-norma yang berlaku, baik dalam bentuk
aturan yang telah disepakati sebelumnya atau pun aturan-aturan agama. Sementara
dalam tatanan politik yang oportunistik, kegiatan politik tidak didedikasikan
untuk tegaknya nilai-nilai melainkan sekedar demi jabatan dan kepentingan
sempit lainnya. Dalam tatanan budaya yang hedonistik, budaya telah berkembang
sebagai bentuk ekspresi pemuas nafsu jasmani.
Dalam hal ini Barat telah menjadi kiblat kearah mana “kemajuan” budaya
harus diraih.[12]
Gaya hidup Barat
senantiasa menjadi acuan dalam segala hal, sehingga pola hidup dan tatanan
masyarakat semakin bebas kemudian berujung pada sikap egoistik dan
individualistik. Kebebasan yang tidak terikat oleh aturan agama sangat
berdampak pada cara beragaman yang sinkretistik yang intinya mensejajarkan
semua agama yang ada.
Sementara itu, sistem
pendidikan yang materialistik terbukti telah gagal menjadikan peserta didiknya
menjadi manusia-manusia saleh yang sekaligus
menguasai iptek. Secara formal kelembagaan, sekularisasi pendidikan ini
telah dimulai sejak adanya dua kurikulum pendidikan keluaran dua departemen
yang berbeda, yakni Depag dan Depdikbud. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa
pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) adalah suatu hal yang berada di
wilayah bebas nilai, sehingga sama sekali tidak tersentuh oleh standar nilai
agama. Kalaupun ada, hanyalah etik (ethic)
yang tidak bersandar pada nilai agama. Sementara pembentukan karakter siswa
yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan justru kurang tergarap secara serius.[13]
Agama dalam pandangan
kaum sekular hanya menjadi penghalang kemajuan dan menghambat proses
modernisasi. Kaum modernis yang menegasikan nilai-nilai ketuhanan dalam
kehidupan sebagaimana halnya kaum sekular, menganggap hal itu sebagai sebuah
tuntutan. ini adalah ciri khas modernitas yang diperagakan oleh Barat sejak
awal perlangkahannya meninggalkan masa kegelapan, dominasi rasio pun semakin hegemonik,
seakan menjadi puncat pencapaian kaum modernis sekular setelah sekian lama
rasionalitas mereka terbelenggu.
Pemberian otoritas yang
berlebihan pada rasio, sains dan teknologi serta menempatkannya sebagai instrumen
untuk mengendalikan alam adalah termasuk atau bagian dari ciri khas manusia madern. Ahmad Alim dalam
tulisannya, “Tafsir Pendidikan Islam”, mengutip pendapat seorang agnostik yang
mengatakan bahwa, “hanya sains dan teknologi saja yang dapat menyelesaikan
problem kelaparan dan kemiskinan, rendahnya tingkat kesehatan dan
keberaksaraan, takhayyul, adat yang mematikan, dan tradisi, mubadzirnya sumber
daya, negeri orang kaya yang dihuni orang-orang lapar. Siapa yang mampu
mengabaikan sains pada masa sekarang? Pada setiap hal kita membutuhkan
bantuannya. Masa depan itu milik sains dan siapa saja yang hidup bersamanya.[14]
Dampak negatif dari
pandangan rasionalitas tersebut kata Ahmad Alim, telah menjadikan worldview manusia modern cenderung
menilai sesuatu hanya sebatas pandangan empiris, dan berdasar pada sudut
pandang pinggiran eksistensi, sementara pandangan tentang spiritual atau pusat
spiritualitas dirinya terpinggirkan. Lebih jauh ia mengatakan bahwa meskipun
secara material manusia mengalami kemajuan yang spektakuler secara kuantitatif,
namun secara kualitatif dan keseluruhan tujuan hidupnya, manusia mengalami
krisis spiritual yang menyedihkan.[15]
Sisi lain dari kemajuan
saat ini adalah kemajuan yang dihegemoni oleh paham materialisme, corak
materialistis sangat nampak dan terasa dalam
segala dimensi kehidupan, dimana kepentingan ekonomi, industri dan
politik yang menjadi urat nadinya.[16] Peran
dari nilai spiritual sangat diperlukan pada tiga kepentigan tersebut, sebagai
alat atau perangkat yang berfungsi mengembalikan nilai dasar kemanusiaan yang
telah hilang.
Paradigma pendidikan
yang terlepas dari kontrol spiritual, hakekatnya telah memandang manusia secara
parsial yaitu sebagai makhluk jasmani dengan kebutuhan materil yang sangat
dominan dengan tidak memperhatikan hakekat manusia sebagai makhluk ciptaan
Tuhan yang tertinggi dan paling sempurna, terutama dilihat dari dimensi
spiritualitasnya.
Dampak dari pendidikan
yang terlalu material oriented ini
dapat berakibat pada pelanggaran nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung
tinggi oleh humanisme[17]. Kasus
di Amerika misalnya, di negara yang penegakkan hukumnya begitu kuat, ternyata
penyalahgunaan anak, dan acuh pada anak masih menjadi masalah yang makin
memilukan. Kejahatan ini sering juga disebut sebagai bentuk tindakan
kesemena-menaan terhadap anak. Perlakuan kasar dan tidak manusiawi terhadap
anak kadang mengakibatkan cacat pisik, emosional, intelektual, maupun
psikologis bahkan sering membawa kematian kepada anak. Sebuah sumber mengatakan
bahwa menjelang akhir dekade 90an, setiap tahun 6000 sampai 50.000 kematian
anak terbukti diakibatkan oleh tindakan semena-mena ini.[18]
Dari sinilah pentingnya
pengembangan konsep kecerdasan spiritual dalam perspektif pendidikan islam. Sebuah
konsep kecerdasa yang mengarah kepada pengegolahan dan pengembangan individu
manusia melalui pendidikan, dalam rangka mempertahankan keabadian jiwa dengan
karakter insan kamil[19].
Sejatinya karakter insan kamil senantiasa melekat pada diri
seorang muslim berupa nilai-nilai ajaran Islam yang kemudian membawanya menjadi
teladan dalam keseluruhan dimensi kehidupan, baik dalam bidang ilmu
pengetahuan, ekonomi, kebudayaan, pendidikan, sosial, politik, dan lain
sebagainya.
Dalam kenyataan seperti
yang terjadi setiap saat di lingkungan kaum muslimin, ummat Islam masih jauh
tertinggal dibandingkan dengan ummat
lainnya yang secara konsep, paradigma ilmu dan secara khusus kecerdasan
spiritualnya cacat. Dalam Islam misalnya diajarkan tentang kebersihan, tetapi ummatnya masih banyak
hidup kumuh, dan kotor dan kurang peduli dengan kebersihan. Yang mengamalkan
ajaran kebersihan justru orang lain yang
tidak memiliki konsep kebersihan dalam agama yang dipeluknya. Kebersihan
ternyata ditemukan di negara-negara yang minoritas penduduknya Islam seperti
Singapura, Hongkong, dan lain sebagainya.[20]
Keterbelakangan
bangsa-bangsa muslim dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan akibat-akibat yang
ditimbulkannya seperti kemiskinan, penyakit, konflik sosial, dan menjadi negeri
yang tidak aman, menggambarkan bahwa Islam belum diamalkan dengan baik.
Negara-negara asia yang
sangat sungguh-sungguh dalam menghargai ilmu pengetahuan terbukti sekarang
menjadi negara maju seperti negara Jepang, Korea, dan Taiwan, disusul kemudian
negara Singapura dan Malaysia. Cina yang sangat kuat dalam mendidik generasi mudanya
untuk mengembangkan ilmu pengetahuan diperkirakan akan menjadi kekuatan ekonomi
kedua setelah Amerikan pada tahun 2015, disusul kemudian India pada tahun 2020.
Pada tahun 2040 Cina dan
India diperkirakan akan menjadi super
power kekuatan ekonomi dan mampu
mengungguli Amerika. Kedua negara ini mengami kemajuan pesat yang luar biasa dalam waktu singkat karena
sangat menghargai ilmu. Sekarang ini belum ada tanda-tanda kaum muslimin
seperti Indonesia akan menjadi kekuatan dunia.
Kebangkitan keilmuan
harus berbanding lurus dengan nilai-nilai spiritual yang terkontruksi di atas
wahyu, sebab menyikapi ilmu tanpa pertimbangan, logika, dan spiritualitas
tinggi akan mengantar manusia pada kecendrungan yang menjebak pada berbagai
asumsi-asumsi “gelap”.[21]
Spiritualitas yang
terkontruksi di atas wahyu perlu dipahami sebagai hasil dari proses penalaran dan
pengamalan atas wahyu dan bukan sebagai hasil indoktrinasi dalam lembaga
pendidikan islami.
Konsep kecerdasan spiritual
dalam perspektif pendidikan Islam, mengharuskan setiap pendidik atau guru agar
membimbing peserta didik bagaimana belajar hidup, mengenal Tuhannya, dan
mengenal dirinya, bukan sekedar menunjukkan sejumlah pengetahuan dan
dalil-dalil ilmu, kecerdasan dan keterampilan. Dalam menjalankan profesinya
sebagai seorang pendidik, Ia tidak hanya mengantar peserta didiknya mengenal
baik dan buruk atau benar dan salah dengan segala resikonya, tetapi harus mengantar
mereka sampai tataran pengamalan yang terkait dengan kebaikan dan kesalihan,
baik ibadah maupun sosial.
Menarik apa yang
dikatakan oleh Abdul Munir Mulkan bahwa selama ini pembelajaran tidak lebih
dari sekedar indoktrinasi petunjuk Tuhan bagi semua kesuksesan manusia, dimana
guru memegang peranan kunci. Bimbingan anak-anak agar mengalami proses belajar
bertuhan, cerdas dan saleh, bukan lagi orintasi kerja guru, tetapi guru harus
memindahkan ilmu, iman, kecerdasan dan kesalehan serta kerterampilan.[22]
Dari keseluruhan fakta-fakta yang menjadi
masalah kaum muslimin secara khusus dan semua manusia secara umum, semuanya
kembali kepada satu masalah besar yaitu masalah krisis nilai spiritual. Menginterpretasikan
kembali kecerdasan spiritual dalam perspektif pendidikan Islam diyakini oleh
penulis akan menjadi bagian penting dari mencari solusi atas permasalah yang
telah disebutkan sebelumnya di atas.
[1] Ruh adalah jauhar 'alawy,
tercipta dari
bahan langit. la
terpaksa mendiami badan kasat ini, lihat, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Miftah
Daarissa’adah-Kunci Kebahagiaan, Jakarta: Akbar, 2004, hlm. 283. Ditempat
yang lain, Ia juga mengatakan bahwa ruh adalah fisik yang berbeda dalam
hakekatnya dengan badan yang dapat diraba ini, yang merupakan fisik bersifat
cahaya, tinggi, ringan, hidup, bergerak, menyebar di setiap sel anggota badan,
berjalan di dalamnya seperti aliran air dalam saluran dan seperti aliran minyak
dalam zaitun dan api dalam bara. Selagi anggota badan ini mesih bisa menerima
pengaruh yang muncul dari fisik yang lembut itu, maka fisik itu tetap ada pada
anggota-anggota badan ini, sehingga ia merasakan pengarunya yang berupa rasa,
gerakan dan kehendak. Jika anggota-anggota ini rusak karena didominasi oleh
komponen yang menekannya dan tidak dapat menerima pengaruh itu, maka ruh
berpisah dengan badan dan beralih ke alam ruh. Lihat, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah,
Ruh, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2004, hlm. 291)
[2] Komaruddin Hidayat, Psikologi Beragama, Jakarta: Hikmah, 2006, hal. 130
[3] Imas Kurniasih, Indahnya Tahajjud: Keutamaan, Manfaat, Dan
Keistimewaan Shalat Malam, Yogyakarta: Mutiara Media, 2008, hal. 89
[4] Syamil Al-Qur’an Terjemahan Perkata (Versi Digital), Sygma Media
Innovation 2014, Hal. 173
[5] Lihat kesimpulan tulisan
Mukhroyi (mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo) dalam skripsinya yang
berjudul, “Konsep Spiritual Quotient Dan
Implementasinya Dalam Pendidikan Islam, hal. 61-62
[6] Anwar Sanusi, Jalan Kebahagiaan, Jakarta: Gema Insani
Press, 2006, hal. 21
[7] Didin Hafidhuddin, Dkk, Menbangun Kemandirian Ummat Di Pedasaan,
Bogor: Pesantren Pertanian Darul Fallah,
2000, hal. 11
[8] Ibid
[9] Ibid
[10] Lihat lihat Muhammad Kosim, Pemikiran
Pendidikan Islam Ibnu Khaldun, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2012, hlm. 114
[11] Ismail Yusanto, Dkk, Menggagas Pendidikan Islami, Bogor: Al
Azhar Press, 2014, hal. 4
[12] Ibid
[13] Ibid, hal. 5
[14] Ahmad Alim, Tafsir Pendidikan Islam, Jakarta: AMP Press, 2014, hal. 149
[15] Ibid, hal. 150
[16] Thobroni, Pendidikan
Islam Paradigma teologis, Filosofis, dan Spiritualitas, hal. vii
[17] Danah Zohar melihat konsep
humanisme Barat dan Timur memilki perbedaan yang mendasar. Humanisme Barat
dikontrusi di atas filsafat Aritoteles yang menjadikan akal sebagai inti
manusia. Artinya, akar manusia sejati terletak dalam akal. Barat yang terasing dari
nilai-nilai agama, dan sisi lain terhegemoni pemikiran Freud yang menganggap
ego dan kecongkakan sebagai diri yang sejati, menjadikan Humanisme barat
menjadi permasalahan yang paling esensial.
Sementara di Timur, humanisme
adalah dasar bagi spiritualitas yang sejati. Hamanisme timur lebih tinggi,
demikian kata zohar, karena dia dikontruksi di atas sesuatu yang lebih dari
sekedar egoisme dan rasionalitas. Seorang humanis Timur menganggap dan
melihat serta sadar bahwa semua usaha
manusia, baik dalam bisnis, kesenian, maupun agama merupakan bagian dari
struktur yang lebih luas dan kaya dari seluruh alam semesta. Pandangan mereka
mengenai diri yang sejati dan asal usul dari landasan keberadaan yang mendalam,
kesadaran inilah yang mengantar mereka pada kerendahan hati dan rasa syukur. Kata
zohar, para humanis Asia tidak congkak. Lihat Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ, Kecerdasan Spiritual, Bandung:
Mizan, 2007, hal. 28
[18] Thobroni, Pendidikan
Islam Paradigma teologis, Filosofis, dan Spiritualitas, hal. viii
[19] Insan kamil merupaka pribadi ideal dan dambaan setiap mukmin.
Secara sederhana insan kamil sering
diartikan sebagai manusia sempurna. Konsep insan
kamil dikenal sebagai pandangan Ibn ‘Arabi tentang manusia. Menurutnya
“manusia sempurna disimbolisasikan oleh Adam yang diciptakan Allah dalam
citranya sebagai kehidupan dimuka bumi”. Istilah insan kamil terdiri dari dua kata, yakni Al insan yang berarti manusia, dan Al kamil yang berarti sempurna. Insan
kamil memiliki tiga dimensi, pertama, sebagai makna ideal yang
universal yang disimbolkan oleh adam. Kedua, sebagai makna partikular yang
tercermin pada diri Muhammad, dan ketiga, sebagai makna praktis yang
dinisbatkan kepada setiap manusia. Lihat Rani Anggraeni Dewi, Menjadi Mansia Holistik, Jakarta:
Penerbit Hikmah, 2006, hal. 148 dan 150
[20] Abuddin Nata, Pendidikan Spiritual Dalam Tradisi Keislaman,
Bandung: Penenrbit Angkasa, 2003, hal. viii
[21] Lihat Muhammad Fathullah Gulen, Bangkitnya Spiritualitas Islam, Jakarta,
Republika, 2012, hal. 48
[22] Abdul Munir Mulkhan, Nalar Spiritual Pendidikan, Solusi Problem
Filosofis Pendidikan Islam, yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 2002, hal.
45

Tidak ada komentar:
Posting Komentar