Jumat, 31 Agustus 2018

DISKURSUS PENDIDIKAN SPIRITUAL DALAM PENDIDIKAN ISLAM


DISKURSUS PENDIDIKAN SPIRITUAL DALAM PENDIDIKAN ISLAM

OLEH : MISJAYA

 

Menurut Al-Qur’an, jati diri manusia yang paling asasi adalah manusia sebagai makhluk spiritual atau rohani. Man is spiritual being. Tanpa rohani, manusia tidak berbeda  dengan tumbuh-tumbuhan atau hewan. Kehadiran rohani atau ruh[1] yang pada dasarnya baik, mempunyai misi sebagai memimpin seluruh organ tubuh dan jiwa untuk berbuat kebaikan dan menyebabkan kasih sayang Tuhan kepada seluruh alam.[2]
Basis kehidupan manusia adalah spiritualitasnya, peristiwa perjanjian primordial antara manusia dengan Allah di zaman azali menunjukkan betapa masalah hubungan atau keterkaitan antara manusia sebagai makhluk dengan Allah Ta’ala sebagai Pencipta sangat penting adanya.[3] Sebagaimana perjanjian itu bisa disimak dalam Al-Qur’an Sutrat Al-A’raaf (7): 172, yang artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikan itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (Keesaan Tuhan.[4]
Kajian dan penelitian tentang spiritual telah banyak menyita perhatian banyak pihak, baik pihak akademisi, politisi, psikolog, filsuf, dan yang lainnya. Khususnya dalam kajian spiritual pespektif pendidikan Islam, telah banyak dilakukan akan tetapi hasil analisisnya masih mengikuti pendapat-pendapat penulis Barat seperti Danah Zohar dan suaminya Ian marshall. Mereka bersepakat bahwa apa yang menjadi kesimpulan Danah Zohar dan Ian Marshall,  terkait dengan kecerdasan spiritual sebagai sarana untuk keluar dari berbagai macam permasalahan hidup, sejalan dengan prinsip-prinsip Islam secara umum. Walaupun dalam rincian penjelasannya, bahwa kecerdasan spiritual Barat lebih berorientasi pada penyelesaian dan pencapaian kebahagiaan dunia semata.[5]
Standar ketenangan dan kebagaiaan pada konsep spiritual perlu dideskripsikan secara jelas, agar konsep ketenangan dan kebahagiaan versi Barat dan Islam menjadi jelas. Berkata Al-Ghazali seperti yang dikutip Anwar Sanusi dalam tulisannya; “Jalan Kebahagiaan”, bahwa kebahagian dan kelezatan sejati adalah bila seseorang dapat mengingat Allah.[6]
Untuk meraih kebahagiaan dan kesejahteraan hidup didunia dan di akhirat, iman, ilmu, dan amal senantiasa menjadi bagian yang padu, yaitu tidak terpisahkan.[7] Dari sini dapat disimpulkan bahwa ketenangan dan kebahagiaan dapat dicapai hanya dengan satu jalan yaitu mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala melalui berbagai macam bentuk ibadah yang telah disyariatkan-Nya.
Untuk mencapai kecerdasan spiritual yang ideal, serta mampu merealisasikannya dalam kehidupan nyata, harus melalui sebuah proses yang disebut pendidikan. Pendidikan senantiasa ada sepanjang sejarah kehidupan manusia, hampir tidak ada kelompok manusia yang tidak menggunakan pendidikan sebagai sarana pembudayaan dan peningkatan kualitasnya, meskipun dengan sistem dan metode yang berbeda-beda. Semua berjalan sesuai dengan taraf hidup dan budaya masing-masing. Bahkan pendidikan juga senantiasa dijadikan sarana penerapan suatu pandangan hidup.[8]
Pendidikan Islam dengan segala bentuknya, mempunyai peran dan fungsi yang sangat penting dan menentukan. Melalui upaya pendidikan Islam, nilai-nlai yang terkandung dalam ajaran Islam, dapat diberikan kepada anak  didik, yang kelak akan menjadi anggota dan pemimpin masyarakat. Sebagai anggota dan pemimpin masyarakat, ia mempunyai tugas dan tanggung jawab mengarahkan dirinya dan masyarakatnya memiliki kepribadian yang takwa dengan spiritualitas yang tinggi.[9]
Sumber daya manusia yang berkualitas dengan spiritualitas tinggi hanya dapat dihasilkan oleh lembaga pendidikan yang dikelola dan diselenggarakan dengan baik dan profesional serta berkualitas unggul.[10]
Terjadinya berbagai macam kerusakan di seluruh dimensi kehidupan orang-orang  Barat saat ini, dipicu oleh kekeliruan mereka dalam memaknai ilmu, termasuk di dalamnya adalah konsep kecerdasan spiritual.
Kemajuan peradaban Barat yang dimotori oleh kemajuan sains dan teknologi termasuk teknologi informasi dan komunikasi berdampak pada menguatnya sistem sekularistik dalam keseluruhan sistem kehidupan mereka. Maka ditengah-tengah sistem sekularistik tersebut, lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama.
Dalam bidang ekonomi misalnya, sistem yang berlaku adalah sistem ekonomi yang kapilistik. Dalam bidang politik, sistem perpolitikan yang didominasi oleh perilaku politik yang oportunistik. Di bidang budaya, yang terbangun adalah budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik,  sikap beragama yang sinkretistik dan paradigma pendidikan yang materialistik.[11]
Dalam tatanan ekonomi materialistik, kegiatan ekonomi digerakkan sekadar demi meraih perolehan materi tanpa memandang aturan-atuaran dan norma-norma yang berlaku, baik dalam bentuk aturan yang telah disepakati sebelumnya atau pun aturan-aturan agama. Sementara dalam tatanan politik yang oportunistik, kegiatan politik tidak didedikasikan untuk tegaknya nilai-nilai melainkan sekedar demi jabatan dan kepentingan sempit lainnya. Dalam tatanan budaya yang hedonistik, budaya telah berkembang sebagai bentuk ekspresi pemuas nafsu jasmani.  Dalam hal ini Barat telah menjadi kiblat kearah mana “kemajuan” budaya harus diraih.[12]
Gaya hidup Barat senantiasa menjadi acuan dalam segala hal, sehingga pola hidup dan tatanan masyarakat semakin bebas kemudian berujung pada sikap egoistik dan individualistik. Kebebasan yang tidak terikat oleh aturan agama sangat berdampak pada cara beragaman yang sinkretistik yang intinya mensejajarkan semua agama yang ada.
Sementara itu, sistem pendidikan yang materialistik terbukti telah gagal menjadikan peserta didiknya menjadi manusia-manusia saleh yang sekaligus  menguasai iptek. Secara formal kelembagaan, sekularisasi pendidikan ini telah dimulai sejak adanya dua kurikulum pendidikan keluaran dua departemen yang berbeda, yakni Depag dan Depdikbud. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) adalah suatu hal yang berada di wilayah bebas nilai, sehingga sama sekali tidak tersentuh oleh standar nilai agama. Kalaupun ada, hanyalah etik (ethic) yang tidak bersandar pada nilai agama. Sementara pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan  justru kurang tergarap secara serius.[13]
Agama dalam pandangan kaum sekular hanya menjadi penghalang kemajuan dan menghambat proses modernisasi. Kaum modernis yang menegasikan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan sebagaimana halnya kaum sekular, menganggap hal itu sebagai sebuah tuntutan. ini adalah ciri khas modernitas yang diperagakan oleh Barat sejak awal perlangkahannya meninggalkan masa kegelapan, dominasi rasio pun semakin hegemonik, seakan menjadi puncat pencapaian kaum modernis sekular setelah sekian lama rasionalitas mereka terbelenggu.
Pemberian otoritas yang berlebihan pada rasio, sains dan teknologi serta menempatkannya sebagai instrumen untuk mengendalikan alam adalah termasuk atau bagian dari  ciri khas manusia madern. Ahmad Alim dalam tulisannya, “Tafsir Pendidikan Islam”, mengutip pendapat seorang agnostik yang mengatakan bahwa, “hanya sains dan teknologi saja yang dapat menyelesaikan problem kelaparan dan kemiskinan, rendahnya tingkat kesehatan dan keberaksaraan, takhayyul, adat yang mematikan, dan tradisi, mubadzirnya sumber daya, negeri orang kaya yang dihuni orang-orang lapar. Siapa yang mampu mengabaikan sains pada masa sekarang? Pada setiap hal kita membutuhkan bantuannya. Masa depan itu milik sains dan siapa saja yang hidup bersamanya.[14]
Dampak negatif dari pandangan rasionalitas tersebut kata Ahmad Alim, telah menjadikan worldview manusia modern cenderung menilai sesuatu hanya sebatas pandangan empiris, dan berdasar pada sudut pandang pinggiran eksistensi, sementara pandangan tentang spiritual atau pusat spiritualitas dirinya terpinggirkan. Lebih jauh ia mengatakan bahwa meskipun secara material manusia mengalami kemajuan yang spektakuler secara kuantitatif, namun secara kualitatif dan keseluruhan tujuan hidupnya, manusia mengalami krisis spiritual yang menyedihkan.[15]
Sisi lain dari kemajuan saat ini adalah kemajuan yang dihegemoni oleh paham materialisme, corak materialistis sangat nampak dan terasa dalam  segala dimensi kehidupan, dimana kepentingan ekonomi, industri dan politik yang menjadi urat nadinya.[16] Peran dari nilai spiritual sangat diperlukan pada tiga kepentigan tersebut, sebagai alat atau perangkat yang berfungsi mengembalikan nilai dasar kemanusiaan yang telah hilang.
Paradigma pendidikan yang terlepas dari kontrol spiritual, hakekatnya telah memandang manusia secara parsial yaitu sebagai makhluk jasmani dengan kebutuhan materil yang sangat dominan dengan tidak memperhatikan hakekat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang tertinggi dan paling sempurna, terutama dilihat dari dimensi spiritualitasnya.
Dampak dari pendidikan yang terlalu material oriented ini dapat berakibat pada pelanggaran nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi  oleh humanisme[17]. Kasus di Amerika misalnya, di negara yang penegakkan hukumnya begitu kuat, ternyata penyalahgunaan anak, dan acuh pada anak masih menjadi masalah yang makin memilukan. Kejahatan ini sering juga disebut sebagai bentuk tindakan kesemena-menaan terhadap anak. Perlakuan kasar dan tidak manusiawi terhadap anak kadang mengakibatkan cacat pisik, emosional, intelektual, maupun psikologis bahkan sering membawa kematian kepada anak. Sebuah sumber mengatakan bahwa menjelang akhir dekade 90an, setiap tahun 6000 sampai 50.000 kematian anak terbukti diakibatkan oleh tindakan semena-mena ini.[18]
Dari sinilah pentingnya pengembangan konsep kecerdasan spiritual dalam perspektif pendidikan islam. Sebuah konsep kecerdasa yang mengarah kepada pengegolahan dan pengembangan individu manusia melalui pendidikan, dalam rangka mempertahankan keabadian jiwa dengan karakter insan kamil[19].
Sejatinya karakter insan kamil senantiasa melekat pada diri seorang muslim berupa nilai-nilai ajaran Islam yang kemudian membawanya menjadi teladan dalam keseluruhan dimensi kehidupan, baik dalam bidang ilmu pengetahuan, ekonomi, kebudayaan, pendidikan, sosial, politik, dan lain sebagainya.
Dalam kenyataan seperti yang terjadi setiap saat di lingkungan kaum muslimin, ummat Islam masih jauh tertinggal dibandingkan dengan  ummat lainnya yang secara konsep, paradigma ilmu dan secara khusus kecerdasan spiritualnya cacat. Dalam Islam misalnya diajarkan tentang  kebersihan, tetapi ummatnya masih banyak hidup kumuh, dan kotor dan kurang peduli dengan kebersihan. Yang mengamalkan ajaran kebersihan justru  orang lain yang tidak memiliki konsep kebersihan dalam agama yang dipeluknya. Kebersihan ternyata ditemukan di negara-negara yang minoritas penduduknya Islam seperti Singapura, Hongkong, dan lain sebagainya.[20]
Keterbelakangan bangsa-bangsa muslim dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya seperti kemiskinan, penyakit, konflik sosial, dan menjadi negeri yang tidak aman, menggambarkan bahwa Islam belum diamalkan dengan baik.
Negara-negara asia yang sangat sungguh-sungguh dalam menghargai ilmu pengetahuan terbukti sekarang menjadi negara maju seperti negara Jepang, Korea, dan Taiwan, disusul kemudian negara Singapura dan Malaysia.  Cina yang  sangat kuat dalam mendidik generasi mudanya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan diperkirakan akan menjadi kekuatan ekonomi kedua setelah Amerikan pada tahun 2015, disusul kemudian India pada tahun 2020.
Pada tahun 2040 Cina dan India diperkirakan akan menjadi super power kekuatan ekonomi dan mampu mengungguli Amerika. Kedua negara ini mengami kemajuan pesat  yang luar biasa dalam waktu singkat karena sangat menghargai ilmu. Sekarang ini belum ada tanda-tanda kaum muslimin seperti Indonesia akan menjadi kekuatan dunia.
Kebangkitan keilmuan harus berbanding lurus dengan nilai-nilai spiritual yang terkontruksi di atas wahyu, sebab menyikapi ilmu tanpa pertimbangan, logika, dan spiritualitas tinggi akan mengantar manusia pada kecendrungan yang menjebak pada berbagai asumsi-asumsi “gelap”.[21]
Spiritualitas yang terkontruksi di atas wahyu perlu dipahami sebagai hasil dari proses penalaran dan pengamalan atas wahyu dan bukan sebagai hasil indoktrinasi dalam lembaga pendidikan islami.
Konsep kecerdasan spiritual dalam perspektif pendidikan Islam, mengharuskan setiap pendidik atau guru agar membimbing peserta didik bagaimana belajar hidup, mengenal Tuhannya, dan mengenal dirinya, bukan sekedar menunjukkan sejumlah pengetahuan dan dalil-dalil ilmu, kecerdasan dan keterampilan. Dalam menjalankan profesinya sebagai seorang pendidik, Ia tidak hanya mengantar peserta didiknya mengenal baik dan buruk atau benar dan salah dengan segala resikonya, tetapi harus mengantar mereka sampai tataran  pengamalan  yang terkait dengan kebaikan dan kesalihan, baik ibadah maupun sosial.
Menarik apa yang dikatakan oleh Abdul Munir Mulkan bahwa selama ini pembelajaran tidak lebih dari sekedar indoktrinasi petunjuk Tuhan bagi semua kesuksesan manusia, dimana guru memegang peranan kunci. Bimbingan anak-anak agar mengalami proses belajar bertuhan, cerdas dan saleh, bukan lagi orintasi kerja guru, tetapi guru harus memindahkan ilmu, iman, kecerdasan dan kesalehan serta kerterampilan.[22] 
Dari keseluruhan fakta-fakta yang menjadi masalah kaum muslimin secara khusus dan semua manusia secara umum, semuanya kembali kepada satu masalah besar yaitu masalah krisis nilai spiritual. Menginterpretasikan kembali kecerdasan spiritual dalam perspektif pendidikan Islam diyakini oleh penulis akan menjadi bagian penting dari mencari solusi atas permasalah yang telah disebutkan sebelumnya di atas.


[1] Ruh adalah jauhar 'alawy, tercipta dari bahan langit. la terpaksa mendiami badan kasat ini, lihat, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Miftah Daarissa’adah-Kunci Kebahagiaan, Jakarta: Akbar, 2004, hlm. 283. Ditempat yang lain, Ia juga mengatakan bahwa ruh adalah fisik yang berbeda dalam hakekatnya dengan badan yang dapat diraba ini, yang merupakan fisik bersifat cahaya, tinggi, ringan, hidup, bergerak, menyebar di setiap sel anggota badan, berjalan di dalamnya seperti aliran air dalam saluran dan seperti aliran minyak dalam zaitun dan api dalam bara. Selagi anggota badan ini mesih bisa menerima pengaruh yang muncul dari fisik yang lembut itu, maka fisik itu tetap ada pada anggota-anggota badan ini, sehingga ia merasakan pengarunya yang berupa rasa, gerakan dan kehendak. Jika anggota-anggota ini rusak karena didominasi oleh komponen yang menekannya dan tidak dapat menerima pengaruh itu, maka ruh berpisah dengan badan dan beralih ke alam ruh. Lihat, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Ruh, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2004, hlm. 291)
[2]  Komaruddin Hidayat, Psikologi Beragama, Jakarta: Hikmah, 2006, hal. 130
[3] Imas Kurniasih, Indahnya Tahajjud: Keutamaan, Manfaat, Dan Keistimewaan Shalat Malam, Yogyakarta: Mutiara Media, 2008, hal. 89
[4] Syamil Al-Qur’an Terjemahan Perkata (Versi Digital), Sygma Media Innovation 2014, Hal. 173
[5] Lihat kesimpulan tulisan Mukhroyi (mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo) dalam skripsinya yang berjudul, “Konsep Spiritual Quotient Dan Implementasinya Dalam Pendidikan Islam, hal. 61-62
[6] Anwar Sanusi, Jalan Kebahagiaan, Jakarta: Gema Insani Press, 2006, hal. 21
[7] Didin Hafidhuddin, Dkk, Menbangun Kemandirian Ummat Di Pedasaan, Bogor: Pesantren Pertanian  Darul Fallah, 2000, hal. 11
[8] Ibid
[9] Ibid
[10] Lihat lihat Muhammad Kosim, Pemikiran Pendidikan Islam Ibnu Khaldun, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2012, hlm. 114
[11] Ismail Yusanto, Dkk, Menggagas Pendidikan Islami, Bogor: Al Azhar Press, 2014, hal. 4
[12] Ibid
[13] Ibid, hal. 5
[14] Ahmad Alim, Tafsir Pendidikan Islam, Jakarta: AMP Press, 2014, hal. 149
[15] Ibid, hal. 150
[16] Thobroni,  Pendidikan Islam Paradigma teologis, Filosofis, dan Spiritualitas,  hal. vii
[17] Danah Zohar melihat konsep humanisme Barat dan Timur memilki perbedaan yang mendasar. Humanisme Barat dikontrusi di atas filsafat Aritoteles yang menjadikan akal sebagai inti manusia. Artinya, akar manusia sejati terletak dalam akal. Barat yang terasing dari nilai-nilai agama, dan sisi lain terhegemoni pemikiran Freud yang menganggap ego dan kecongkakan sebagai diri yang sejati, menjadikan Humanisme barat menjadi permasalahan yang paling esensial.
Sementara di Timur, humanisme adalah dasar bagi spiritualitas yang sejati. Hamanisme timur lebih tinggi, demikian kata zohar, karena dia dikontruksi di atas sesuatu yang lebih dari sekedar egoisme dan rasionalitas. Seorang humanis Timur menganggap dan melihat  serta sadar bahwa semua usaha manusia, baik dalam bisnis, kesenian, maupun agama merupakan bagian dari struktur yang lebih luas dan kaya dari seluruh alam semesta. Pandangan mereka mengenai diri yang sejati dan asal usul dari landasan keberadaan yang mendalam, kesadaran inilah yang mengantar mereka pada kerendahan hati dan rasa syukur. Kata zohar, para humanis Asia tidak congkak. Lihat Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ, Kecerdasan Spiritual, Bandung: Mizan, 2007, hal. 28
[18] Thobroni,  Pendidikan Islam Paradigma teologis, Filosofis, dan Spiritualitas, hal. viii
[19] Insan kamil merupaka pribadi ideal dan dambaan setiap mukmin. Secara sederhana insan kamil sering diartikan sebagai manusia sempurna. Konsep insan kamil dikenal sebagai pandangan Ibn ‘Arabi tentang manusia. Menurutnya “manusia sempurna disimbolisasikan oleh Adam yang diciptakan Allah dalam citranya sebagai kehidupan dimuka bumi”. Istilah insan kamil terdiri dari dua kata, yakni Al insan yang berarti manusia, dan Al kamil yang berarti sempurna. Insan kamil memiliki tiga dimensi, pertama, sebagai makna ideal yang universal yang disimbolkan oleh adam. Kedua, sebagai makna partikular yang tercermin pada diri Muhammad, dan ketiga, sebagai makna praktis yang dinisbatkan kepada setiap manusia. Lihat Rani Anggraeni Dewi, Menjadi Mansia Holistik, Jakarta: Penerbit Hikmah, 2006, hal. 148 dan 150
[20] Abuddin Nata, Pendidikan Spiritual Dalam Tradisi Keislaman, Bandung: Penenrbit Angkasa, 2003, hal. viii
[21] Lihat Muhammad Fathullah Gulen, Bangkitnya Spiritualitas Islam, Jakarta, Republika, 2012, hal. 48
[22] Abdul Munir Mulkhan, Nalar Spiritual Pendidikan, Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam, yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 2002, hal. 45 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar