Jumat, 16 Desember 2011

Dasar-Dasar Pendidikan Islam


BAB  I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seiring perkembangan zaman, pembahasan tentang konsep yang menjadi dasar pendidikan dan pendidikan itu sendiri semakin meluas  dan  memiliki  ruang  yang  signifikan  untuk  terus  dikaji  ulang.  Ada  tiga alasan  yang melatarbelakangi terjadinya hal itu:  pertama, pendidikan melibatkan peserta  didik,  pendidik  dan  penanggung  jawab  pendidikan,  yang  ketiganya
merupakan  sosok  manusia  yang  dinamis;  kedua,  perlunya  inovasi  pendidikan untuk  mengimbangi  perkembangan  sains  dan  teknologi;  ketiga,  tuntutan  dari globalisasi  dalam  segala  hal.  Ketiga  alasan  diatas  merupakan  tantangan  yang harus  dijawab  oleh  dunia  pendidikan,  agar  manusia  terus  melangsungkan kehidupannya dalam kondisi yang dinamis, inovatif dan mengglobal ini.
Subyektifitas manusia dalam mengkaji pendidikan itu sendiri memunculkan  berbagai  konsep yang menjadi dasar pijakan  dan  teori  pendidikan yang menjadi sebab munculnya berbagai macam inovasi  sesuai  dengan  wacana  dan  cara  pandang mereka. Salah satunya yakni konsep dasar pendidikan Islam yang dibangun diatas nilai-nilai  dogmatis  Islam  sebagai  wahyu  Ilahi  tanpa  mengesampingkan  sumber-sumber komponen lain dalam pendidikan.

B. Rumusan Masalah
Terkait dengan  pernyataan  diatas,  dalam  makalah  ini  penulis  mencoba memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan hal tesebut, yaitu:
1. Pengertian pendidikan Islam
2. Sumber dan dasar pendidikan Islam


BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendidikan Islam
Istilah  pendidikan  berasal  dari  bahasa  Yunani,  yaitu  paedagogie  yang berarti  bimbingan  yang  diberikan  kepada  anak.  Menurut  Kamus  Besar  Bahasa Indonesia (2001:263)  pendidikan  adalah “proses  pengubahan sikap  dan  tata  laku seseorang  atau  kelompok  orang  dalam  usaha  mendewasakan  manusia  melalui upaya  pengajaran  dan  pelatihan;  proses,  cara,  perbuatan  mendidik.”  Sedangkan menurut para ahli , pengertian pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Menurut  John  Dewey,  pendidikan  adalah  suatu  proses  pembaharuan  makna pengalaman,  hal  ini  mungkin  akan  terjadi  di  dalam  pergaulan  biasa  atau pergaulan  orang  dewasa  dengan  orang  muda,  mungkin  pula  terjadi  secara sengaja dan dilembagakan untuk menghasilkan kesinambungan sosial. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok dimana dia hidup.
2. Menurut H. Horne, pendidikan adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia  yang telah berkembang secara  fisik  dan  mental,  yang  bebas  dan  sadar  kepada  Tuhan,  seperti termanifesatsi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.
3. Menurut  Frederick  J.  Mc  Donald,  pendidikan  adalah  suatu  proses  atau kegiatan  yang  diarahkan  untuk  merubah  tabiat  (behavior)  manusia.  Yang dimaksud dengan behavior adalah setiap tanggapan atau perbuatan seseorang, sesuatu yang dilakukan oleh seseorang.
4. Menurut  M.J.  Langeveld,  pendidikan  adalah  setiap  pergaulan  yang  terjadi antara  orang  dewasa  dengan  anak-anak  merupakan  lapangan  atau  suatu keadaan dimana pekerjaan mendidik itu berlangsung.[1]                              
5. Menurut  Soegarda  Purbakawaca,  dalam  arti  umum,  pendidikan  mencakup segala  usaha  dan  perbuatan  dari  generasi  tua  untuk  mengalihkan perjalanannya,  pengetahuannya,  kecakapannya  serta  keterampilannya  kepada generasi  muda  untuk  melakukan  fungsi  hidupnya  dalam  pergaulan  bersama sebaik-baiknya.[2]
6. Menurut  Prof.  Dr.  Azzumardi  Azra.  MA,  pendidikan  adalah  suatu  proses dimana  suatu  bangsa  atau  Negara  membina  dan  mengembangkan  kesadaran diri di antara individu-individu. Dengan kesadaran tersebut suatu bangsa atau negara  dapat  mewariskan  kekayaan  budaya  atau  pemikiran  kepada  generasi berikutnya,  sehingga  menjadi  inspirasi  bagi  mereka  dalam  setiap  aspek kehidupan.[3]
Dari pengertian para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan dapat diartikan secara sempit dan dapat pula diartikan secara luas. Secara sempit dapat diartikan “bimbingan yang diberikan kepada anak-anak sampai dewasa.”[4]
Adapun  pengertian  pendidikan  secara  luas  adalah  “segala  sesuatu  yang menyangkut  proses  perkembangan  dan  pengembangan  manusia,  yaitu  upaya menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai bagi anak didik sehingga nilai-nilai yang  terkandung  dalam  pendidikan  menjadi  bagian  dari  kepribadian  anak  yang pada  gilirannya  ia  menjadi  orang  pandai,  baik,  mampu  hidup  dan  berguna  bagi masyarakat”.[5]
Sedangkan islam adalah “ berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkanNya, tanduk dan patuh kepadaNya dengan menta’atiNya serta menjauhi syirik dan pelaku syirik”. kaitannya  dengan  Pendidikan Islam,  maka  ada  tiga  istilah  umum  yang sering  digunakan  dalam  pendidikan  (Islam),  yaitu  :  at-Tarbiyyah  (pengetahuan tentang  ar-Rabb),  at-Ta’lim  (ilmu  teoritik,  kreativitas,  komitmen  tinggi  dalam mengembangkan  ilmu,  serta  sikap  hidup  yang  menjunjung  tinggi  nilai-nilai ilmiah), dan at-Ta’dib (integrasi ilmu dan amal).
1. Istilah al-Tarbiyah
Kata  Tarbiyah  berasal  dari  kata  dasar  “rabba”  (رﺑﻰ),  yurabbi  (ﯾﺮﺑﻰ)  menjadi “tarbiyah  yang  mengandung  arti  memelihara,  membesarkan  dan  mendidik. Dalam  statusnya  sebagai  khalifah  berarti  manusia  hidup  di  alam  mendapat kuasa  dari  Allah  untuk  mewakili  dan  sekaligus  sebagai  pelaksana  dari  peran dan fungsi Allah di alam. Dengan demikian manusia sebagai bagian dari alam memiliki  potensi  untuk  tumbuh  dan  berkembang  bersama  alam lingkungannya.  Tetapi  sebagai  khalifah  Allah  maka  manusia  mempunyai tugas untuk memadukan pertumbuhan dan perkembangannya bersama dengan alam.[6]                                               
2. Istilah al-Ta’lim
Secara  etimologi,  ta’lim  berkonotasi  pembelajaran,  yaitu  semacam  proses transfer  ilmu  pengetahuan.  Hakekat  ilmu  pengetahuan  bersumber  dari  Allah Subhanahu  wa  Ta’ala.  Adapun  proses  pembelajaran  (ta’lim)  secara  simbolis dinyatakan dalam informasi al-Qur’an ketika penciptaan Adam as oleh Allah Subhanahu  wa  Ta’ala,  ia  menerima  pemahaman  tentang  konsep  ilmu pengetahuan  langsung  dari  penciptanya.  Proses  pembelajaran  ini  disajikan dengan  menggunakan  konsep  ta’lim  yang  sekaligus  menjelaskan  hubungan antara pengetahuan Adam as dengan Tuhannya. (Jalaluddin, 2001:122).
3. Istilah al-Ta’dib
Al-Ta’dib  berarti  pengenalan  dan  pengetahuan  secara  berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia (peserta didik) tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan. Dengan pendekatan ini pendidikan  akan  berfungsi  sebagai  pembimbing  ke  arah  pengenalan  dan pengakuan tentang Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan kepribadiannya.
Ahmad  D.  Marimba  menyatakan  pendidikan  Islam  adalah  “Bimbingan jasmani  dan  rohani  berdasarkan  hukum-hukum  agama  Islam  menuju  kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran Islam atau memiliki kepribadian muslim.”
Mushtafa  Al-Ghulayani  berpendapat  bahwa  pendidikan  Islam  adalah menanamkan akhlak yang mulia ke dalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan petunjuk dan nasihat, sehingga akhlak mereka menjadi salah satu kemampuan yang meresap dalam jiwanya dan mewujudkan keutamaan, kebaikan, dan cinta bekerja bagi kemanfaatan tanah air.[7]
H.M Chabib Thoha (1996:99), menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah “pendidikan  yang  falsafah  dan  tujuan  serta  teori-teori  dibangun  untuk melaksanakan  praktek  pendidikan  yang  didasarkan  nilai-nilai  dasar  Islam  yang terkandung dalam al-Qur’an dan hadits Nabi.”                                   
Pendidikan  Islam  adalah  usaha  merubah  tingkah  laku  individu  didalam kehidupan  pribadinya  atau  kehidupan  kemasyarakatannya  dan  kehidupan  dalam alam sekitar melalui proses pendidikan.[8]
Syekh A. Naquib al-Attas memberikan pengertian bahwa pendidikan Islam adalah  “usaha  yang  dilakukan  oleh  pendidik  terhadap  anak  didik  untuk pengenalan  dan  pengakuan  tempat-tempat  yang  benar  dari  segala  sesuatu  dari tatanan  penciptaan,  sehingga  membimbing  mereka  kearah  pengenalan  dan pengakuan  akan  tempat  Tuhan  yang  tepat  didalam  tatanan  wujud  dan kepribadian”.
M.  Yusuf  Qardhawi  sebagaimana  dikutip  oleh  Prof.  Dr.  Abuddin Nata,  MA.  (2003:60)  memberikan  pengertian  “pendidikan  manusia  seutuhnya; akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya. Karena itu pendidikan  Islam  menyiapkan  manusia  untuk  hidup  baik  dalam  keadaan  damai maupun  perang,  dan  menyiapkannya  untuk  menghadapi  masyarakat  dengan segala kebaikan dan kejahatan, manis dan pahit.”
Setidak-tidaknya  ada  tiga  poin  yang  dapat  disimpulkan  dari  beberapa pengertian pendidikan Islam di atas, yaitu:
Pertama:    Pendidikan  Islam  menyangkut  aspek  jasmani  dan  rohani. Keduanya  merupakan  satu  kesatuan  yang  tidak  bisa  dipisahkan.  Oleh  karena  itu pembinaan terhadap keduanya harus seimbang (tawazun).
Kedua:        Pendidikan Islam terbangun atas dasar nilai-nilai religius. Ini  berarti  bahwa  pendidikan  Islam  tidak  mengabaikan  teologis  sebagai  sumber dari ilmu itu sendiri. Sebagaimana firman Allah :
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ [٢:٣١]
Artinya:
“Dan  Dia  mengajarkan  kepada  Adam  Nama-nama  (benda-benda)  seluruhnya, kemudian  mengemukakannya  kepada  Para  Malaikat  lalu  berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (Qs. Al-Baqarah [2] : 31)
Dari  ayat  di  atas  menunjukkan  adanya  epistemologi  dalam  Islam,  yakni bahwa ilmu pengetahuan bersumber dari yang satu, Allah Subhanahu wa Ta’ala.                                                
Ketiga:     Adanya  unsur  takwa  sebagai  tujuan  yang  harus  dicapai. Sebagaimana kita ketahui, bahwa takwa merupakan benteng yang dapat berfungsi sebagai daya tangkal terhadap pengaruh-pengaruh negatif yang datang dari luar.
Berdasarkan    pengertian  dari  tiga  poin  di  atas  dapat  disimpulkan  bahwa pendidikan  Islam  adalah  “bimbingan  yang  diberikan  oleh  seseorang  agar  ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.”[9]
B. Dasar-Dasar Pendidikan Islam
Pendidikan  Islam  bersumber  pada  enam  hal,  yaitu  al-Qur’an  (yang merupakan  sumber  utama  dalam  ajaran  Islam),  as-Sunnah  (perkataan,  perbuatan dan  persetujuan  Nabi  atas  perkataan  dan  perbuatan  para  sahabatnya),  kesepakatan para ulama (ijma’),  kemaslahatan  umat  (mashalih  al-mursalah),  tradisi atau kebiasaan masyarakat (‘urf) dan ijtihad (hasil para ahli dalam Islam).
Keenam sumber  tersebut  disusun  dan  digunakan  secara  hierarkis, artinya rujukan  pendidikan  Islam  berurutan  diawali  dari  sumber  utama  yakni  al-Qur’an dan  dilanjutkan  hingga  sumber-sumber  yang  lain  dengan  tidak  menyalahi  atau bertentangan dengan sumber utama.
Sedangkan  dasar  dari  pendidikan  Islam  adalah  tauhid.  Dalam  struktur ajaran  Islam,  tauhid  merupakan  ajaran  yang  sangat  fundamental  dan  mendasari segala  aspek  kehidupan  penganutnya,  tak  terkecuali  aspek  pendidikan.  Dalam kaitan  ini  para  pakar  berpendapat  bahwa  dasar  pendidikan  Islam  adalah  tauhid. Melalui dasar ini dapat dirumuskan hal-hal sebagai berikut:
1.    Tauhidullah fil ‘ibadah.  Sebagaimana yang telah diketahui bersama bahwa hikmah penciptaan manusia adalah beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pintu utama pelaksanaan ibadah adalah ilmu yang mengharuskan adanya proses pendidikan.
2.    Tauhidurrasul fit tiba’.  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai master pendidikan islam secara tiori maupun praktek serta menjangkau segala aspek kehidupan yang tidak dapat dijangkau oleh manusia dari manapun.
3.    Kesatuan  iman  dan  rasio.  Iman dan rasio adalah perwakilan dari yang tidak nampak dengan yang nampak dan masing-masing mempunyai wilayah tersendiri, sehingga harus saling melengkapi.
4.    Satu agama.  Agama  yang  dibawa  oleh  para  nabi  adalah satu, agama tauhid. Para nabi dan rasul telah menjadikannya sebagai materi pendidikan paling utama dan warisan paling berharga.
5.    Kesatuan  kepribadian  manusia.  Mereka  semua  tercipta dari  tanah yang akhirnya menjadi  jasad yang ditiupkan kepadanya roh sebagai sebagai inti fitroh.
6.    Kesatuan individu dan masyarakat. Yaitu, setiap mereka masing-masing saling menunjang .[10]




















[1] H. A. Yunus,  Filsafat Pendidikan, Bandung:CV. Citra Sarana Grafika. 1999. hlm. 7-9
[2] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA., Kafita Selekta Pendidikan Islam. Bandung:Angkasa, 2003. hlm. 12
[3] Ibid, hlm. 40
[4] Ahmad D. Marribah, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung:Al-Ma’arif. 1981. hlm. 30
[5] Syed Muhammad al-Naquib al-Attas, Konsep Pendidikan Dalam Islam. Bandung:Mizan. 1984. cet. Ke-1. hlm. 60)
[6] Zuhairini. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta:Bumi Aksara. 1995. cet. I. hlm. 121
[7] H. Abuddin Nata, ibid. hlm. 59-60
[8] Omar  Muhammad  Al-Toumy  Al-Syaibani,  Falsafah  At-Tarbiyah  Al-Islamiyah,  ter.   Hasan Lunggalung, Jakarta:Bulan Bintang, Cet., ke-1 1979., hal 399
[9] Ahmad  Tafsir,  Ilmu  Pendidikan  dalam  perspektif  Islam,  Bandung:  Remaja  Rosda  Karya,  Cet. Ke-4, 2001. hal. 32
[10] Quraish Shihab, Wawasan Al-qur’an, Tafsir Maudhu’i atas berbagai persoalan ummat. Bandung: Mizan, 1996. Cet. Ke-3 hal. 382-383